eng.. ing.. eng..

Maret 9, 2009

Fenomena Sosial Politik dari Kacamata Efek Rumah Kaca

Diarsipkan di bawah: Orkes Pelipur Lara, Sosialita — aditampan @ 3:38 pm

OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO

Musik pop adalah aliran musik yang paling banyak digemari oleh masyarakat tanah air, bahkan dunia. Mayoritas materi liriknya bertemakan cinta. Keberadaanya sangat eksis dan banyak mempengaruhi kemunculan beragam aliran musik lain. Secara substansial, jenis musik ini easy listening dan banyak mewakili perasaan cinta seseorang.

Lalu bagaimana jika musik lokal didominasi tema cinta? Hufh…. Titik jenuh menanti.

first-album-efek-rimah-kacaEfek Rumah Kaca (ERK), sebuah band beranggotakan Cholil Mahmud (Gitar & Vocal), Adrian Yunan Faisal (Bass & Vocal) dan Akbar Bagus Sudibyo (Drum), mencoba memberi alternatif dan merubah image musik pop. Debut album perdananya di tahun 2007 bertajuk Efek Rumah Kaca, diusung oleh Paviliun Record. Uniknya, band asal Jakarta ini menggunakan fenomena Sosial Politik (Sospol) dan kehidupan sehari-hari sebagai bahan mentah, mengolahnya dengan mesin syair yang mendidik, kemudian mengemasnya secara cantik dan minimalis. Selusin lagu berkualitas ditawarkan untuk Anda.

Jujur, ERK mewakili kejenuhan saya terhadap banyak band lokal yang menemui jalan buntu akan variasi konsep dan tema. Apalagi industri major lable yang memperkosa penampilan, mengkebiri kreativitas, dan membangun imperium asal laku di pasar. Karena itu, untuk musik dalam negeri, saya lebih interest kepada band indie yang tiada henti bereksperimen dan berinovasi.

Mengapa band Indonesia selalu menggunakan nada minor, liriknya berisi tentang perselingkuhan, patah hati dan kerinduan. Apa karena tuntutan pasar, atau memang kodrat kita sebagai bangsa Melayu? ERK mencoba melawan arus dengan lagu berjudul Cinta Melulu. Band yang terbentuk sejak 2001 ini semakin menambah deras arus perlawanan yang ditujukan kepada individu yang dibutakan oleh cinta dan bersikap over karena cinta, hal ini ditegaskan dalam tembang Jatuh Cinta Itu Biasa Saja.

Belanja Terus Sampai Mati memperingatkan kaum urban agar berhati-hati terhadap wabah konsumtivisme. Penyakit sosial ini menyerang naluri kemudian membentuk pola pikir masyarakat untuk selalu menjadi konsumen, konsumen, dan konsumen. Bukan menjadi konseptor ataupun penemu. “Awal dari sebuah kepuasan, kadang menghadirkan kebanggaan. Dalih keangkuhan.” Kapan Indonesia menjadi bahan pembicaraan penghuni bumi atas dedikasinya mengevolusi peradaban? Ironisnya ini hanya fantasi. Tidak ada manusia seperti Einstein atau Bill Gates untuk Indonesia, habis sudah putra bangsa seperti Habibie.

Nuansa politis kental disajikan dalam lagu Jalang, yang mengisahkan kontroversi Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi. Adanya Perbedaan misi dengan mereka yang merasa diri paling suci, menjadi esensi terciptanya lagu ini. Setiap kali mendengar Di Udara, saya selalu merinding dibuatnya. Track tersebut akan mengingatkan kita pada misteri kematian Aktivis HAM Munir. Saat mendengar lirik; “Ku bisa tenggelam di lautan, aku bisa di racun di udara, aku bisa terbunuh di trotoar jalan,” ERK selalu dapat menghadirkan semangat keberanian Alm. Cak Munir menentang kediktatoran orde baru.

second-album-kamar-gelapDi penghujung 2008, ERK meluncurkan album kedua bertajuk Kamar Gelap yang berisikan 12 lagu. Masih dengan jalur independen, kini mereka berada di bawah bendera Aksara Record. Trio jenius ini menyajikan musik dengan bumbu yang lebih ‘hore’ ditambah penyedap rasa distorsi, namun tetap menyediakan menu yang edukatif. Judul album ini diadopsi dari salah satu judul lagu mereka, yaitu Kamar Gelap. ”Prinsip dasar fotografi adalah mengubah (film) negatif menjadi positif. Kami berharap lagu-lagu kami juga bisa seperti itu,” pernyataan tersebut diutarakan Cholil, kepada Kompas (Sabtu, 3 Januari 2009. Hal. 32).

Single album kedua berjudul Kenakalan Remaja di Era Informatika, membuka wacana kita akan krisis moralitas yang melanda remaja. Maraknya video porno yang dilakoni pasangan remaja membuktikan bahwa dewasa ini etika dikalahkan oleh nafsu birahi. “Ouw… Nafsu menderu-deru, bikin malu. Mengapa kita tersesat arah? Mengapa kita tak bisa dewasa?”

Kepedulian terhadap minat membaca yang dikemas dengan petikan gitar nan indah serta merdunya perpaduan vocal tinggi dan backing vocal yang rendah, dilantunkan dalam lagu Jangan Bakar Buku. Menurut ERK, kata demi kata dalam sebuah buku dapat menghantarkan fantasi, dan bait-baitnya memicu anestesi. Secara tidak langsung mereka mengajak masyarakat untuk mencintai dan membudayakan membaca.

Kritik politik dan apatisme terhadap para pemimpin bangsa, diintepretasikan dalam tatanan bahasa lugas pada tembang Mosi Tidak Percaya. ERK menyentil para penguasa dengan lirik pedas. ”Kau tak berubah, selalu mencari celah, lalu semakin parah, tak ada jalan tengah.” Lagu ini adalah surat peringatan untuk para pemegang mandat, jangan anggap kami tak berdaya, kami tak mau lagi diperdaya. Kami tak bisa dibeli.

kacamata-erk-made-in-aditampan-

Mendekati momentum pesta demokrasi, ERK mengisi kolom Obrolan A-Politis dalam rubrik Mandat Rakyat di surat kabar Kompas, yang dimuat setiap Sabtu sejak awal Januari 2009. Opini yang diangkat merupakan isu-isu yang berkaitan dengan Pemilu 2009, mulai dari tingkah aneh para Caleg, perebutan kursi Presiden, sampai pada atribut Parpol yang merusak keindahan sudut kota. Saya selalu membaca kemudian mengkliping tulisan-tulisan mereka. Congratz…. Prestasi yang membanggakan, sebuah band mengisi kolom secara rutin tiap minggunya di sebuah surat kabar berskala nasional. Ada baiknya anak-anak band mengikuti jejak ERK, membuktikan eksistensinya dengan cara-cara positif, kritis, elegan dan mendidik.

Mengutip kalimat indah dari buku ”Setengah Isi, Setengah Kosong,” karya Parlindungan Marpaung, beliau mengutip dan menulis kuotasi yang sempat menjadi goresan tinta emas dunia kewirausahaan. ”Ribuan orang melihat apel jatuh, namun hanya Isaac Newton yang bertanya: Mengapa?

Dari pepatah di atas, saya menarik kesimpulan kemudian membuat soal pilihan berganda yang semestinya dijawab oleh semua band, manajer, produser, sampai pada perusahaan rekaman yang dewasa ini menjamur.

”Ribuan band menciptakan lagu, namun hanya Efek Rumah Kaca yang berbeda, Mengapa?”

  1. Cinta adalah segalanya
  2. Tidak ada tema lain
  3. Tuntutan pasar
  4. Selera dan kuping melayu

Silahkan dijawab.

 

Note:

Free download mp3 Efek Rumah Kaca dalam album Kamar Gelap, silahkan kunjungi link di bawah ini:

http://www.4shared.com/dir/11918917/bdded441/Efek_Rumah_Kaca_-_Kamar_Gelap__2008_.html.

Juni 26, 2009

Masihkah Layak Skripsi Jadi Syarat Kelulusan?

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — aditampan @ 10:41 am

OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO


Ga terasa ya udah skripsi. Pake metode apa? Kualitatif atau Kuantitatif? Observasi, questioner, atau angket? Sidangnya kapan? Sukses ya.. !

Orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya mengenakan toga dikepala dengan pita yang sudah berada di sisi kanan topi toga. Momentum tersebut pasti diabadikan dengan media foto, kemudian dicetak dengan ukuran yang cukup besar, dibingkai, dan dipajang di ruang tamu, sebagai informasi bahwa anaknya telah sarjana.

Sebelum foto wisuda terpampang dan satuan kredit semester terpenuhi selama perkuliahan, tibalah saatnya seorang mahasiswa berjuang ekstra menyelesaikan tugas akhir yang menjadi simbol kelulusan jenjang pendidikan Strata Satu (S1). Mulai dari mengajukan judul, mendatangi Dosen Pembimbing (DP) yang belum tentu memiliki waktu luang, merangkai kata agar menjadi bahasa ilmiah, merevisi isi bab yang terlanjur dicorat-coret DP, pergi ke perpustakaan untuk mengumpulkan materi, mendatangi lokasi atau objek penelitian, melewati birokrasi yang melelahkan, menguraikan hasil penelitian yang membuat kepala pusing, membuat materi presentasi, sampai tidak bisa tidur karena stres memikirkan sidang. Syukur-syukur jika semuanya berjalan lancar. Inilah cerita singkat proses menyusun skripsi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, 2005, Skripsi adalah; karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya.

Dari pengertian di atas, dalam konsep kekinian, makna skripsi sebagai karangan ilmiah rasanya menjadi sebuah utopia (jauh dari kenyataan). Jika saya berargumen, skripsi bukan lagi karangan ilmiah. Apalagi dalam studi ilmu sosial. Skripsi kini adalah sebuah karangan yang benar-benar ngarang, disusun menggunakan metode copy-paste, validitas datanya tak mampu mewakili jawaban masyarakat, dan tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

Dalam program acara debat Calon Presiden kedua yang disiarkan hampir di semua stasiun televisi nasional, pada Kamis (25/6) malam lalu, ekonom Eviliani yang bertindak sebagai moderator mengajukan pertanyaan terkait masalah pengangguran. ”Pengangguran terdidik –sarjana yang belum mendapat pekerjaan– mencapai angka 50,3 persen,” kata Eviliani sambil melihat data yang dipegangnya. Ia menambahkan, jumlah wirausahawan di Indonesia tidak mencapai angka 2 persen dari jumlah total penduduk Indonesia.

Saya tercengang mendengar data tersebut, keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan.

Apakah benar wacana lapangan kerja yang minim menjadi penyebab meledaknya jumlah pengangguran, terutama pengangguran terdidik. Karena faktanya, setiap hari di suratkabar harian, selalu terpampang beragam lowongan pekerjaan.

Bagi saya, keprihatinan di atas erat kaitannya pada masalah pendidikan. Skripsi yang bertele-tele menjadikan seorang calon intelektual hanya mampu berwacana, tapi tak mampu menjadikan wacananya menjadi kenyataan.

Argumen tersebut bukan berarti tidak mempunyai dasar. Saya punya alasan mengapa skripsi tidak lagi relevan menjadi syarat kelulusan.

  1. Saya yakin, hanya sedikit mahasiswa yang murni mengerjakan sendiri isi/materi skripsinya. Tanpa ada plagiat, copypaste, ataupun membayar jasa seseorang untuk menyelesaikan skripsinya.
  2. Apakah hasil penelitian benar dan jujur adanya? Bukan lagi rahasia umum bahwa manipulasi data atau hasil penelitian kerap dilakukan mahasiswa dalam menyusun skripsinya. Jangankan skripsi, ironisnya, hasil penghitungan suara Pemilu saja dapat dimanipulasi.
  3. Apakah di dunia kerja Anda dituntut untuk membuat skripsi? Jawabannya adalah, tidak. Hingga saat ini, saya tidak pernah melihat lowongan kerja untuk jabatan pembuat skripsi.
  4. Pernahkah Anda mempersentase, berapa persen keuntungan yang diperoleh dalam menyusun skripsi. Lebih besar mana dengan pengalaman praktik kerja lapangan atau magang kerja?
  5. Apakah skripsi tersebut bermanfaat? Untuk siapa? Masyarakat? Bangsa? Negara? Atau jangan-jangan untuk diri sendiripun kontribusinya hanya sedikit.
  6. Pernahkah Anda menghitung lembaran kertas terbuang sia-sia hanya untuk menyelesaikan satu bab skripsi Anda? Berapa lembar yang direvisi dan digandakan? Silahkan hitung. Kemudian cukup Anda bayangkan, berapa mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di kampus Anda? Kotamadya? Propinsi? Indonesia? Lalu kaitkan dengan isu global warming, berapa juta pohon yang ditebang untuk memenuhi permintaan kertas tersebut?

Dari beberapa alasan saya di atas, notabene menimbulkan pertanyaan masihkah layak skripsi jadi syarat kelulusan? Mungkin cara berfikir saya terlalu praktis, tapi ini kenyataan.

Tak enak rasanya berbicara tanpa solusi. Solusi yang saya tawarkan lebih berorientasi pada praktik. Bagaimana jika skripsi yang bertele-tele itu digantikan dengan tugas/karya akhir. Jadi, tidak perlu ada penelitian yang berujung pada manipulasi data dan hasil. Untuk memperdalam pemahaman terhadap teori dan konsep, mahasiswa secara nyata mempraktikan disiplin ilmu agar mereka mempunyai pengalaman langsung di bidang studinya. Hal ini banyak diterapkan dalam jenjang pendidikan Diploma Tiga (D3).

Apa salahnya jika mahasiswa S1 dijadikan sumber daya profesional di bidangnya, seperti mahasiswa D3 yang secara cepat menerima materi dan spesifik mata kuliah sesuai studi.

Solusi pertama, mahasiswa harus memperbanyak praktik kerja lapangan ataupun magang kerja. Kampus menentukan kebijakan berapa kali para calon intelektual itu harus menempuh praktik kerja.

Bisa ditentukan berdasarkan berapa bulan mahasiswa harus praktik kerja, 3 bulan atau 6 bulan (satu semester). Tempat bekerja disesuaikan dengan disiplin ilmu. Bisa di perusahaan, instansi, organisasi, dll. Untuk mempermudah mobilitas mahasiswanya, pihak kampus seyogyanya membantu dengan memberikan surat ijin, surat permohonan ataupun rekomendasi, bahwa benar mahasiswa tersebut berkuliah di kampusnya. Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat mempelajari seluk beluk pekerjaan.

Dengan memperbanyak praktik, mahasiswa terbiasa dengan suasana kerja. Bahkan tidak menutup kemungkinan termotivasi untuk berwirausaha sesuai keahlian. Dengan begitu akan tercipta lapangan kerja baru, sekaligus membangun bangsa dengan caranya sendiri. Seperti yang diucapkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ”Berdirilah dengan otak sendiri, otot sendiri, dan kantong sendiri.”

Solusi kedua, jika skripsi masih terus diadakan, antara mahasiswa dan dosen pembimbing diharap mampu memaksimalkan pemanfaatan teknologi informatika web 2.0. Masyarakat Indonesia tergolong modern. Aktivitas sehari-harinya tidak pernah lepas dari perangkat komputer. Karena faktanya, Indonesia menempati rangking kedua pengguna ponsel Black Berry terbanyak di dunia.

Saat melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing, mahasiswa cukup menyerahkan soft copy (bukan hard copy) naskah skripsinya, kemudian dipresentasikan dan dibimbing di depan komputer atau laptop. Jadi, skripsi yang masih dalam tahap bimbingan, tidak perlu dicetak di atas kertas. Hanya skripsi yang ingin disidangkan dan skripsi yang sudah teruji saja yang nantinya akan dicetak. Selain memberi kepraktisan, hal ini tentu menghemat listrik dan kertas.

Praktik-praktik semacam ini sangat relevan dengan usaha save our planet yang sering dikampanyekan para pecinta lingkungan, terkait isu pemanasan global. One man one tree, juga menjadi program global pecinta lingkungan untuk mengurangi gas efek rumah kaca. Tapi jika skripsi masih terus diadakan sebagai syarat kelulusan, maka slogan tersebut hanya sebatas wacana, yang kemudian berubah menjadi one man one skripsi. Ini berarti, satu mahasiswa membuang banyak kertas. Ironis bukan?

Jujur, saya lebih interest pada solusi yang pertama. Keunggulan memperbanyak praktik kerja adalah, mahasiswa secara nyata masuk dalam sistem dan mengenal birokrasi kerja. Praktik menjadikan mahasiswa sebagai sumber daya manusia yang matang. Tak menutup kemungkinan membuka perspektif untuk menjadi enterpreneur yang tangguh.

Black inovation. Sebuah kompetisi yang diselenggarakan oleh salah satu perusahaan rokok lokal terkemuka, yang bertujuan merangsang kreativitas anak bangsa untuk berinovasi membuat karya bermanfaat. Mengapa Departemen Pendidikan Nasional dan pakar pendidikan tidak berkaca dari program tersebut? Mengapa generasi muda tidak dirangsang untuk membuat sesuatu yang baru? Mengapa tetap memakai skripsi untuk meneliti sesuatu yang telah ada?

Daripada sibuk memaparkan teori dalam penulisan skripsi, lebih baik memperbanyak praktik yang berhubungan dengan dunia kerja. Dalam sebuah seminar di kampus saya, pengusaha sukses Bob Sadino mengatakan, manusia tidak butuh banyak teori, manusia butuh melangkah.

Pernyataan Bob Sadino mungkin dapat menjawaban pertanyaan mengapa jumlah pengangguran di Indonesia terus meningkat, terutama pengangguran terdidik? Pernyataan itu jugalah yang menjawab, mengapa banyak mahasiswa yang bekerja tidak sesuai dengan disiplin ilmunya?

Berminatkah Anda untuk melangkah?

April 9, 2009

Pemilu Legislatif 2009, Berjudi atau Golput?

Diarsipkan di bawah: Sosialita — aditampan @ 1:11 pm

OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO

komisi-pemilihan-umum-20091Hari ini, Kamis 9 April 2009, adalah momentum penentu rangkaian usaha para Calon Legislatif (Caleg) dan Partai Politik (Parpol) dalam berkampanye. Kampanye yang digelar sejak 16 Maret hingga 5 April 2009, telah menghabiskan miliaran rupiah untuk sebuah usaha persuasi berbentuk iklan, poster, spanduk, konvoi, hingga konser musik.

Pukul 10.30 WIB pagi ini, saya iseng mengunjungi dan nongkrong sejenak ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) di dekat kediaman. Suasana saat itu cukup ramai, antrean panjang, atmosfer orang berbincang, dan suara panitia yang sibuk memanggil satu persatu nama pemilih dengan pengeras suara. Memperhatikan ekspresi wajah sebagian warga yang menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Umum (Pemilu) kali ini, beberapa dari mereka terkejut ketika menerima surat suara untuk DPR (kuning), DPD (merah), DPD Provinsi (biru), dan DPD Kabupaten Kota (hijau). Banyak dan besarnya ukuran surat suara, membiaskan ekspresi kebingungan. Ketika sudah berada di bilik suara, mungkin ada dari mereka yang membatin; gede banget kertasnya, waduh,,, ga ada yang sreg neh, ko’ ga ada yang ganteng/cantik?, contreng yang mana ya?, atau mungkin ada yang; cap cip cup alias gambling. Seperti bermain judi.

Selasai mencontreng, pemilih berjalan menuju rentetan empat kotak berbahan dasar seng, lalu memasukan surat sauaranya ke masing-masing kotak yang telah ditentukan. Kemudian, mencelupkan salah satu jari tangannya ke tinta yang sudah tersedia. Tinta tersebut membuktikan, seseorang telah menjalankan kewajibannya sebagai warga Negara. Peduli terhadap proses demokrasi.

Ditengah suasana tersebut, segelintir anak kecil yang terkenal nakal di sekitar rumah saya melintas belarian bersama, sambil cengar-cengir, mereka meneriakan; “Golput, Golput, Golput.” Saya dan para warga yang sedang berada di lokasi TPS, serentak tertawa. “Bisa-bisanya mereka ngomong Golput,” ujar seorang bapak yang sedang berbincang bersama saya.

Anak-anak kecil itu membuka perspektif saya. Segera saya kembali ke rumah untuk mencari koran harian yang pernah memuat informasi mengenai sejarah Golput. “Golongan Putih di Indonesia dimulai pada Pemilu 1971, diprakarsai oleh para tokoh muda. Gerakan ini lahir karena adanya gejala Pemilu 1971 tidak demokratis.” (Kompas, Sabtu, 7 Maret 2009, hal. 3). Saya membaca kembali artikel tersebut, terlintas tanda tanya dalam benak saya, mengapa kelompok kepentingan tersebut menggunakan nama GOLONGAN PUTIH? Dan mengapa memilih kata GOLONGAN dalam frasa nama tersebut?

Jika mengingat sejarah demokrasi Indonesia, Pemilu 1971 diikuti oleh tiga partai, yakni PPP, Partai Golkar dan PDI. Kembali kepada pertanyaan, mengapa kelompok tersebut memilih kata GOLONGAN? Mengapa tidak diberi nama PARTAI PUTIH? PARTAI PERSATUAN PUTIH? PARTAI DEMOKRASI PUTIH, dan sebagainya.

golongan-putih

Ada apa dengan kata GOLONGAN? Siapa yang hendak dilawan?

Siapa lagi kalau bukan Pemerintah! Siapa yang memimpin pada masa itu? Soeharto. Partai apa yang mendominasi kursi wakil rakyat? Golkar.

Sekarang jelas semuanya, menurut sudut pandang praktis saya, nama GOLONGAN PUTIH dikutip dari nama Partai Golongan Karya. Hanya saja kata belakangnya dirubah, dari Karya menjadi Putih. Kata Putih itu sendiri dapat ditafsirkan; bersih. Golput merupakan Kelompok Anomi dalam partisipasi politik di suatu negara. “Kelompok ini tidak mempunyai organisasi, tetapi individu-individu yang terlibat merasa mempunyai perasaan frustasi dan ketidakpuasan yang sama.” (Prof. Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, 2008). Ledakan emosi Golput, diungkapkan dengan apatisme pemberian hak suara dalam Pemilu. Pada masa Orde Baru, tujuan kelompok ini ialah memilih untuk tidak memilih partai apapun. Karena jika memilih sekalipun, hasilnya akan sama saja. Partai Golkar sulit ditumbangkan.

Itulah sebabnya Arif Budiman cs menjadi lokomotif gerakan Golput. Bukan berarti tokoh pemuda pada masa itu tidak peduli dengan negaranya. Melainkan Pemerintah Orde Baru lah yang semena-mena membelokan esensi dan konstitusi demokrasi. Partai Golkar pada masa itu adalah senjata kediktatoran Soeharto dalam mempertahankan kekuasaan. ABRI, Guru, dan Pegawai Negeri Sipil “dihimbau” untuk memilih partai berlambang pohon beringin. Hingga sempat terjadi “Kuning-isasi” pada waktu itu, rumah berwarna kuning pun kian menjamur di sudut-sudut kota.

Kembali pada Pemilu 2009, pukul 13.00 WIB, salah satu stasiun televisi tengah melaporkan hasil quick count. Partai Golkar menduduki peringkat teratas penghitungan sementara. Namun pada pukul 16.00 WIB, Golkar merosot ke posisi tiga setelah Partai Demokrat dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Suara rakyat adalah suara Tuhan, Indonesia masih menantikan hasil penghitungan suara. Semoga lembaga-lembaga survei yang menangani penghitungan pesta demokrasi kali ini juga dapat mengabdi kepada rakyat. Bagi para Caleg dan tim suksesnya, selamat menantikan kemenangan, selamat kalah, selamat membayar hutang, dan selamat gila. Wacana rumah sakit jiwa bagi caleg yang gagal meraih kursi legislatif, sungguh penghinaan luar biasa bagi mereka. Kita tinggal menunggu kejutan tersebut.

Maret 9, 2009

Ketika Islam Menjadi Kendaraan Politik

Diarsipkan di bawah: Sosialita — aditampan @ 2:18 pm

OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO

Jangan kotori kesucian agama dengan kotoran intrik-intrik politik. Lepaskan azas, baju koko, peci, ucapan, serta ”bumbu-bumbu” yang berkaitan dengan Islam saat kalian menjalankan fungsi politik. 

Tidak ada sejarahnya konsep Pemerintahan modern bersih dari kelicikan, suap-menyuap, lobi terselubung, kepentingan golongan, dan kegiatan merusak moral lainnya dari substansial kegiatan politik.

Saya tidak rela melihat Islam ditunggangi para prajurit pengkhianat Raja dan bangsanya.

Berkaca dan malulah kalian.

Desember 22, 2008

Krisis Edukasi Pertelevisian Indonesia

Diarsipkan di bawah: Sosialita — aditampan @ 12:50 pm

 OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO

Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Banyak orang menganggap bahwa komunikasi itu mudah dilakukan karena biasa dilakukan sejak lahir. Hanya bila seseorang memasuki suatu pengalaman di mana proses komunikasi yang biasa dilakukan tersebut rusak atau “macet”, baru ia menyadari bahwa komunikasi itu ternyata tidak mudah.

Rosady Ruslan menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Konsepsi dan Aplikasi (2006), bahwa peran komunikasi sangat penting bagi manusia dalam kehidupan sehari–hari, sesuai dengan fungsi komunikasi yang bersifat:

1. Persuasif (to persuade). Inti dari fungsi komunikasi adalah menggerakkan, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku seseorang.

2. Edukatif (to educate). Terjadinya pertukaran informasi yang berupa ilmu pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya.

3. Informatif (to inform). Komunikasi yang mengandung muatan persuasif dalam arti bahwa pembicara menginginkan pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang disampaikannya akurat dan layak untuk diketahui.

4. Menghibur (to entertain). Secara tidak langsung komunikasi dapat membantu melupakan persoalan hidup seseorang.

Pemaparan di atas adalah teori dasar ketika seseorang mempelajari ilmu komunikasi, namun apakah teori tersebut telah dipraktikan secara baik dan benar oleh para mahasiswa, praktisi dan pelaku komunikasi? Pertanyaan tersebut adalah suatu tanda tanya besar.

Saya mencoba membahas komunikasi dalam konteks penyiaran televisi, mengapa saya memilih angle tersebut? Karena televisi memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Oleh karena itu, para pekerja, praktisi dan profesional televisi harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan.

televisi seharusnya menjadi alat kontrol sosial

Pernyataan di atas adalah fungsi televisi sebagai media massa. Setujukah Anda? Faktanya, banyak program televisi di Indonesia yang tidak menjalankan fungsi komunikasi secara utuh. Sebagian besar dari ”mereka” meninggalkan fungsi ’edukatif’ dari esensial fungsi komunikasi. Mengapa demikian? Mungkin karena lupa, atau karena rating, atau karena tidak memiliki background pendidikan komunikasi, atau karena keinginan khalayak, atau karena hanya mengikuti keinginan bos besar dan para petinggi televisi tempat mereka bekerja. 

televisi-kini-hanya-menjadi-komoditas-bisnis5

Program televisi secara substansial adalah seni penciptaan karya berbentuk audio dan visual. Sebelum berkarya, seorang pekerja televisi harus memposisikan diri sebagai penonton agar mengetahui secara pasti target penonton yang akan dituju, agar program yang dibuat mempunyai karakter yang kuat, tidak murahan dan tidak membodohi.

Seorang Reporter, Asisten Produksi, Produser, Kamerawan, Editor, Programer, sampai pada Pemimpin Redaksi dan Dewan Redaksi, harus mempunyai visi mengembangkan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pikiran dan kreativitasnya. Tidak hanya bermodalkan kreativitas yang dewasa ini justru membodohi, seorang pekerja televisi layaknya mempunyai dasar pemikiran yang terkait dengan etika dan estetika. Seluruh proses ini harus diimbangi dengan mempertimbangkan dampak yang akan diterima oleh penonton.

Tidak disangka, sebuah benda elektronik berbentuk kotak yang dicitrai gambar bergerak dan suara, sangat mempengaruhi sosial keseharian individu. Anda pasti pernah mengucapkan kalimat:

1. Kita? Elo aja kali gue enggak

2. Yaiyalah, masa yaiyadong. Mulan aja Jameelah masa Jameedong

3. A, B, C, D, Aduh Bo’ Cape Deh?

4. dan sebagainya

Jargon-jargon di atas, adalah contoh kecil pengaruh televisi. Tidak hanya jargon, tanpa sadar masyarakat terperangkap oleh sebuah format program yang frekuensi siarannya menyaingi program berita. Bayangkan, pun jam 7 (tujuh) pagi masyarakat harus menelan informasi seputar masalah pribadi dan gaya hidup para artis yang serba hedonis. Alhasil, program yang menurut saya tidak termasuk kategori jurnalistik tersebut, berhasil membius masyarakat untuk mengikuti tingkah artis dan memicu konsumtivisme.

Kemanakah program kuis? Dimana program yang mengangkat kebudayaan nusantara? Masih relevankah drama berseri yang sampai tengah malam masih siaran? Entah karena kehabisan materi tayang? Atau karena tuntutan bisnis. Yang ada hanyalah eksploitasi kehidupan masyarakat yang hanya menjual nilai konyol murahan (saya tidak mengatakan reality show). Atau Membodohi khalayak dengan cengeng-cengengan (saya tidak mengatakan sinetron), yang inti cerita melulu seperti itu. Ironis memang. Tapi inilah wajah pertelevisian Indonesia.

Berhati-hatilah dalam menonton sebuah program. Coba renungkan, Apakah Anda hanya INGIN menonton, ataukah Anda memang merasa PERLU menonton program tersebut. Karena program yang baik adalah program yang memang DIINGINKAN dan DIPERLUKAN khalayak. Selamat memilih tontonan.

Semoga tulisan ini dapat membuka perspektif para profesional yang mengaku dirinya adalah pakar komunikasi.

Program Buku Murah, Dimana yang Murah?

Diarsipkan di bawah: Sosialita — aditampan @ 12:00 pm

OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO

Pernahkah Anda mendengar Program Buku Murah yang digalangkan Departemen Pendidikan? Program tersebut, disosialisasikan dalam talkshow Special Dialog di Metro TV, pada hari Selasa (19/08/2008), pukul 20.00 WIB. Dengan nara sumber Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo.

Sekedar saran, daripada anggaran Depdiknas dipakai untuk mensponsori program Special Dialog episode Program Buku Murah tersebut, lebih baik digunakan untuk benar-benar merealisasikan agar bangsa ini mencintai dan membudayakan membaca. Karena selama ini, harga buku yang selangit menjadi salah satu faktor penghalang budaya baca di Negara bendera Merah Putih.

Bagaimana Prof. DR. Bambang Sudibyo, MBA., merealisasikannya? Apakah dengan merazia dan menggusur pedagang buku kaki lima di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat?

Sadarkah Kisanak Para Menteri, Bapak Wapres dan Bapak Presiden, Kwitang adalah THE REAL CHEAP BOOK STORE? Masyarakat tidak peduli bahwa buku yang mereka beli adalah buku bajakan, warnanya kabur, hurufnya tidak jelas, cepat rusak, ataupun fotokopian. Yang terpenting adalah, bagaimana caranya menambah isi otak dengan beragam pengetahuan tanpa harus merogoh uang selipan di dompet, yang seharusya untuk uang saku hari esok dan lusa.

Jika kita berkunjung ke toko buku, bersiaplah dikejutkan dengan harga banderol yang notabene sulit dijangkau oleh mahasiswa, contohnya adalah saya sendiri. Alternatifnya adalah, pergi ke Kwitang, menyusuri kios-kios, bertanya-tanya, tawar-menawar, dan terjadilah transaksi buku yang diinginkan dengan harga terjangkau.

Disisi lain, Pemerintah setempat menindak lanjuti dan bertanggung jawab penuh atas THE REAL CHEAP BOOK STORE. Sebagian pedagang buku kali lima Kwitang yang terkena petertiban telah dialokasikan ke Proyek Senen dan JaCC (Jakarta City Center) Tanah Abang, Jakarta Pusat. Syukurlah.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemda DKI Jakarta, semoga THE REAL CHEAP BOOK STORE tidak lagi terkena razia. Karena secara tidak langsung, para pedagang tersebut berkontribusi mencerdaskan bangsa.

Jika boleh saya bertanya kepada pihak berwenang, mengapa para pedagang tersebut dialokasikan? Kenapa mereka tidak dilarang lagi untuk berjualan, seperti halnya pedagang CD (Compact Disc) atau DVD (Digital Video Disc) bajakan? Saya yakin, apa yang ada di benak saya juga ada dalam benak Anda. Karena kita satu visi, ingin melihat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas. Oleh karena itu, realisasikan Program Buku Murah demi anak dan cucu Anda, dan lakukan dengan sepenuh hati.

September 2, 2008

Punk dan Anti Kemapanan

Diarsipkan di bawah: Sosialita — aditampan @ 4:49 pm

OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO

Banyak orang berpendapat bahwa Punk itu kotor, berantakan dan identik dengan kehidupan yang tidak jelas, bahkan ada yang beropini bahwa Punk itu brutal. Padahal, tidak semua pecinta musik Punk atau yang biasa disebut Punkers demikian adanya.

Dilihat dari sejarahnya, Punk masih menjadi tanda tanya tentang awal mula keberadaannya. Ada Punkers yang berpendapat bahwa Punk berawal dari sebuah aliran musik. Tapi yang jelas, Punk muncul sebagai budaya tandingan terhadap kemapanan dan kapitalisme pada masa revolusi industri di Inggris yang menggantikan tenaga manusia dengan tenaga mesin di tahun 1960an. Akibatnya, banyak pengusaha yang melakukan pemutusan hubungan kerja para karyawannya.

Pada tahun 1960an, ada sebuah band Rock bernama New York Dolls. Dalam konsep pembuatan lagu, band ini membuat lirik yang “nyeleneh” dengan durasi lagu yang singkat. Dan band inilah yang menjadi influence dari terbentuknya musik Punk.

Seorang designer dan pemilik butik asal Inggris bernama Malcolm Mc. Laren, adalah otak dari terbentuknya Sex Pistols. Band inilah yang pertama kali mengasumsikan dirinya sebagai band Punk, dilanjutkan dengan munculnya Ramones, Rancid, dsb.

anti kapitalis

anti kemapanan dan kapitalisme

Celana jeans ketat, rambut Mohawk, Body Pierchng dan tato, merupakan gaya berdandan para Punkers. Gaya seperti ini dipelopori oleh Exploited. Band ini meniru dari budaya suku Mohawk di Amerika. Di daerah asalnya, Suku Mohawk membuat tato, rambut Mohawk dan Body Pierching sebagai tolak bala atas kepercayaan yang mereka anut. Dan para Punkers meniru gaya tersebut sebagai salah satu ungkapan ekspresi dan bentuk perlawanan terhadap kemapanan dan kapitalisme. Intinya, komunitas Punk menuntut kehidupan yang bebas tanpa aturan, tapi bukan berarti mereka menjadi musuh masyarakat. Justru Punkers sangat peduli terhadap masyarakat kelas bawah.

’Kesamaan’ juga menjadi semboyan komunitas Punk. Dimata mereka tak ada perbedaan jenis kelamin, patriarki ataupun matriarki. Mereka juga menunjukan kepedulian terhadap sesama dengan melakukan tradisi Food Not Bombs (Makanan bukan Bom). Awalnya, tradisi ini tercetus di Amerika sebagai protes kepada Pemerintah atas pembelian nuklir. Punkers berpendapat, dari pada Pemerintah menghambur-hamburkan uang untuk membeli nuklir, lebih baik dibelikan makanan untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Di Indonesia, khususnya di Jakarta, tradisi seperti ini masih sering dilakukan. Tujuannya, mengingatkan bahwa makanan sebenarnya gratis, hanya saja sistem kapital membuatnya menjadi suatu komuditas.

Keep on Punk Spirit

Virus Gaya Hidup Konsumtif

Diarsipkan di bawah: Sosialita — aditampan @ 4:34 pm

OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO

“Woow.. Astaga apa yang sedang terjadi. Woow.. Astaga entah kemana semua ini. Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli, mudah putus asa dan kehilangan arah.” Sepotong lirik lagu berjudul Astaga yang dipopulerkan oleh Ruth Sahanaya, sepertinya tengah mencengkram kaum muda yang sedang dilanda ”sesuatu”, seperti halnya sikap keputusasaan dan hilangnya arah tujuan (disorientasi), yang sering terjadi.

“Sesuatu” tersebut adalah keberadaan nilai hedonis dan konsumtif yang saat ini berkembang secara revolusioner di kalangan anak muda. Apakah ini dapat diartikan sebagai suatu peningkatan dalam dunia ekonomi? Atau mungkin telah memperkeruh cara berpikir masyarakat (khususnya anak muda) yang cenderung konsumtif?

Meningkatnya jenis dan merk suatu produk yang beredar di pasaran, tanpa disadari memicu sikap matrealistis yang merekat kuat pada sebagian orang. Salah satu korbannya adalah Mahasiswa. Adalah suatu hal yang wajar jika seorang Mahasiswa mengikuti tren fashion, tempat hiburan, makanan cepat saji dan teknologi yang selalu berubah dengan cepat tanpa bertepi. Tapi kenyataannya, tidak sedikit pula Mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri.

Dengan uang saku yang masih menodongkan tangan ke orang tua, pasti tidak sedikit orang tua yang mengeluh karena desakan konsumerisme sang anak yang fanatik akan produk-produk ternama, mungkin karena gengsi yang dianggap berhubungan dengan status sosial dan harga diri, padahal keinginannya tidak seimbang dengan kebutuhannya. Hal tersebut, mendominasi seseorang untuk menguatkan identitas diri secara simbolik yang ternilai dari apa yang dipakai dan digunakan.

Keprihatinan tersebut, tanpa disadari bisa terbawa hingga dewasa, karena konsumtivisme mempengaruhi psikologis seseorang dan akan membawa dampak pada kehidupan sosialnya.

Muda foya-foya, tua kaya-raya dan mati masuk surga. Metamorfosis hidup seperti itu pasti pernah terlintas dalam benak kita. Apakah semudah membalikan telapak tangan? Jika kebahagiaan hidup yang diharapkan tidak diiringi dengan usaha dan kerja keras, ditambah lagi jika seseorang sudah terbiasa instan mendapatkan apa yang diinginkan. Pasti akan lebih banyak lagi orang disekeliling kita yang memilih jalan pintas untuk bisa mendapatkan apa yang diyakini sebagai suatu kebutuhan. Bukti empirisnya adalah menjalarnya kasus korupsi dimana-mana, bahkan pada level kampus.

Fenomena Konsumtivisme yang melanda kaum muda dan Mahasiswa adalah sasaran empuk yang berkesinambungan bagi industri, dimana emosi masih menguasainya dalam memutuskan suatu hal dan menomorduakan skala prioritas. Ironisnya lagi, bersamaan saat media massa menyajikan informasi tentang bencana alam yang sering melanda Ibu pertiwi belakangan ini, hampir di setiap waktu pula media massa mempublikasikan berbagai iklan yang menawarkan nilai-nilai kemudahan dan kemewahan yang menyenangkan. Dimanakah fungsi media massa yang seharusnya menjadi alat kontrol sosial?

Ada sebuah cerita lucu ketika saya sedang nongkrong bersama teman-teman di lobi kampus. Si Ganteng, sebut saja demikian nama salah seorang Mahasiswa. Saat itu kami sedang bersantai melepas lelah setelah mengikuti perkuliahan. Tiba-tiba si Ganteng di ejek oleh salah satu teman saya, “muka sih boleh ganteng, gaya keren, tapi ga punya Hand Phone (HP)”. Teman-teman yang lain menertawakan si Ganteng. “Sorry, tangan gua gatel kalo bawa HP yang kaya begini” (mengejek salah satu teman yang menggunakan HP produksi tahun terdahulu). “Gua tuh maunya yang poliphonik, ada kameranya, musik player, sama ada fasilitas Bluetooth-nya.” Begitulah kira-kira jawaban si Ganteng.

Apakah kisah di atas juga sering mampir di telinga anda? Kondisi tersebut menjadi target market sebuah perusahaan telepon genggam terkemuka di dunia, yang memilih Indonesia sebagai negara Asia Tenggara pertama untuk launching produk terbarunya. Apakah Indonesia adalah bangsa yang modern? Atau sudah berpredikat sebagai bangsa konsumtif?

Menengok sedikit pada momentum Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei lalu, dimana 100 tahun yang lalu, bangsa Indonesia menyatakan diri bangkit dari penindasan, pembodohan dan pemerasan atas kesewenang-wenangan kekuasaan pemerintah kolonial. Semua gerakan yang lahir pada masa itu, menyatukan tekad dan semangat nasionalisme memperjuangkan suatu keadilan sosial.

Maka di era globalisasi sekarang ini, kita bisa memaknai kebangkitan nasional dari sudut pandang yang lebih luas. Salah satunya dari kacamata perekonomian industri lokal. Praktiknya, berpartisipasi menyiasati diri untuk membangun kepercayaan pada produk lokal dan melepaskan ketergantungan pada produk asing. Hal ini, mampu membangun citra baru dan menanamkan konsepsi kemandirian untuk industri dalam negeri, dan tentu saja memberikan kontribusi positif untuk devisa negara. Itu lebih baik, dari pada devisa negara terus digerogoti kapitalis global.

Mahasiswa adalah pondasi bangsa yang sudah seharusnya memiliki sumber daya manusia yang baik dan kematangan berpikir yang fresh. Apa jadinya jika konsumtivisme terlanjur menjadi wabah penyakit sosial yang terus menghantui Indonesia dari keterpurukan yang berkepanjangan. Jangan sampai sikap tersebut terinfeksi pada generasi bangsa dan menjadi budaya yang mencemaskan. Coba lihat “kebawah”, bagaimana masyarakat pedesaan berusaha keras memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Saya cukup prihatin atas kesenjangan sosial yang kasat mata terlihat oleh kita semua.

Terpaan informasi yang terus-menerus membius kita, harus dengan cermat ditepis dengan cara berpikir rasional yang jauh ke depan, karena industri tidak akan pernah berhenti memproduksi barang up-to-date.

Agustus 11, 2008

Cinta Melulu

Diarsipkan di bawah: Orkes Pelipur Lara — aditampan @ 7:59 am

BY: EFEK RUMAH KACA


Nada-nada yang minor
Lagu perselingkuhan
Atas nama pasar semuanya begitu klise

Elegi patah hati
Ode pengusir rindu
Atas nama pasar semuanya begitu banal

Reff:
Lagu cinta melulu
Kita memang benar-benar melayu
Suka mendayu-dayu
Lagu cinta melulu

Reff:
Lagu cinta melulu
Apa memang karena kuping melayu
Suka yang sendu-sendu
Lagu cinta melulu

Blog pada WordPress.com.