OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO
Musik pop adalah aliran musik yang paling banyak digemari oleh masyarakat tanah air, bahkan dunia. Mayoritas materi liriknya bertemakan cinta. Keberadaanya sangat eksis dan banyak mempengaruhi kemunculan beragam aliran musik lain. Secara substansial, jenis musik ini easy listening dan banyak mewakili perasaan cinta seseorang.
Lalu bagaimana jika musik lokal didominasi tema cinta? Hufh…. Titik jenuh menanti.
Efek Rumah Kaca (ERK), sebuah band beranggotakan Cholil Mahmud (Gitar & Vocal), Adrian Yunan Faisal (Bass & Vocal) dan Akbar Bagus Sudibyo (Drum), mencoba memberi alternatif dan merubah image musik pop. Debut album perdananya di tahun 2007 bertajuk Efek Rumah Kaca, diusung oleh Paviliun Record. Uniknya, band asal Jakarta ini menggunakan fenomena Sosial Politik (Sospol) dan kehidupan sehari-hari sebagai bahan mentah, mengolahnya dengan mesin syair yang mendidik, kemudian mengemasnya secara cantik dan minimalis. Selusin lagu berkualitas ditawarkan untuk Anda.
Jujur, ERK mewakili kejenuhan saya terhadap banyak band lokal yang menemui jalan buntu akan variasi konsep dan tema. Apalagi industri major lable yang memperkosa penampilan, mengkebiri kreativitas, dan membangun imperium asal laku di pasar. Karena itu, untuk musik dalam negeri, saya lebih interest kepada band indie yang tiada henti bereksperimen dan berinovasi.
Mengapa band Indonesia selalu menggunakan nada minor, liriknya berisi tentang perselingkuhan, patah hati dan kerinduan. Apa karena tuntutan pasar, atau memang kodrat kita sebagai bangsa Melayu? ERK mencoba melawan arus dengan lagu berjudul Cinta Melulu. Band yang terbentuk sejak 2001 ini semakin menambah deras arus perlawanan yang ditujukan kepada individu yang dibutakan oleh cinta dan bersikap over karena cinta, hal ini ditegaskan dalam tembang Jatuh Cinta Itu Biasa Saja.
Belanja Terus Sampai Mati memperingatkan kaum urban agar berhati-hati terhadap wabah konsumtivisme. Penyakit sosial ini menyerang naluri kemudian membentuk pola pikir masyarakat untuk selalu menjadi konsumen, konsumen, dan konsumen. Bukan menjadi konseptor ataupun penemu. “Awal dari sebuah kepuasan, kadang menghadirkan kebanggaan. Dalih keangkuhan.” Kapan Indonesia menjadi bahan pembicaraan penghuni bumi atas dedikasinya mengevolusi peradaban? Ironisnya ini hanya fantasi. Tidak ada manusia seperti Einstein atau Bill Gates untuk Indonesia, habis sudah putra bangsa seperti Habibie.
Nuansa politis kental disajikan dalam lagu Jalang, yang mengisahkan kontroversi Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi. Adanya Perbedaan misi dengan mereka yang merasa diri paling suci, menjadi esensi terciptanya lagu ini. Setiap kali mendengar Di Udara, saya selalu merinding dibuatnya. Track tersebut akan mengingatkan kita pada misteri kematian Aktivis HAM Munir. Saat mendengar lirik; “Ku bisa tenggelam di lautan, aku bisa di racun di udara, aku bisa terbunuh di trotoar jalan,” ERK selalu dapat menghadirkan semangat keberanian Alm. Cak Munir menentang kediktatoran orde baru.
Di penghujung 2008, ERK meluncurkan album kedua bertajuk Kamar Gelap yang berisikan 12 lagu. Masih dengan jalur independen, kini mereka berada di bawah bendera Aksara Record. Trio jenius ini menyajikan musik dengan bumbu yang lebih ‘hore’ ditambah penyedap rasa distorsi, namun tetap menyediakan menu yang edukatif. Judul album ini diadopsi dari salah satu judul lagu mereka, yaitu Kamar Gelap. ”Prinsip dasar fotografi adalah mengubah (film) negatif menjadi positif. Kami berharap lagu-lagu kami juga bisa seperti itu,” pernyataan tersebut diutarakan Cholil, kepada Kompas (Sabtu, 3 Januari 2009. Hal. 32).
Single album kedua berjudul Kenakalan Remaja di Era Informatika, membuka wacana kita akan krisis moralitas yang melanda remaja. Maraknya video porno yang dilakoni pasangan remaja membuktikan bahwa dewasa ini etika dikalahkan oleh nafsu birahi. “Ouw… Nafsu menderu-deru, bikin malu. Mengapa kita tersesat arah? Mengapa kita tak bisa dewasa?”
Kepedulian terhadap minat membaca yang dikemas dengan petikan gitar nan indah serta merdunya perpaduan vocal tinggi dan backing vocal yang rendah, dilantunkan dalam lagu Jangan Bakar Buku. Menurut ERK, kata demi kata dalam sebuah buku dapat menghantarkan fantasi, dan bait-baitnya memicu anestesi. Secara tidak langsung mereka mengajak masyarakat untuk mencintai dan membudayakan membaca.
Kritik politik dan apatisme terhadap para pemimpin bangsa, diintepretasikan dalam tatanan bahasa lugas pada tembang Mosi Tidak Percaya. ERK menyentil para penguasa dengan lirik pedas. ”Kau tak berubah, selalu mencari celah, lalu semakin parah, tak ada jalan tengah.” Lagu ini adalah surat peringatan untuk para pemegang mandat, jangan anggap kami tak berdaya, kami tak mau lagi diperdaya. Kami tak bisa dibeli.

Mendekati momentum pesta demokrasi, ERK mengisi kolom Obrolan A-Politis dalam rubrik Mandat Rakyat di surat kabar Kompas, yang dimuat setiap Sabtu sejak awal Januari 2009. Opini yang diangkat merupakan isu-isu yang berkaitan dengan Pemilu 2009, mulai dari tingkah aneh para Caleg, perebutan kursi Presiden, sampai pada atribut Parpol yang merusak keindahan sudut kota. Saya selalu membaca kemudian mengkliping tulisan-tulisan mereka. Congratz…. Prestasi yang membanggakan, sebuah band mengisi kolom secara rutin tiap minggunya di sebuah surat kabar berskala nasional. Ada baiknya anak-anak band mengikuti jejak ERK, membuktikan eksistensinya dengan cara-cara positif, kritis, elegan dan mendidik.
Mengutip kalimat indah dari buku ”Setengah Isi, Setengah Kosong,” karya Parlindungan Marpaung, beliau mengutip dan menulis kuotasi yang sempat menjadi goresan tinta emas dunia kewirausahaan. ”Ribuan orang melihat apel jatuh, namun hanya Isaac Newton yang bertanya: Mengapa?
Dari pepatah di atas, saya menarik kesimpulan kemudian membuat soal pilihan berganda yang semestinya dijawab oleh semua band, manajer, produser, sampai pada perusahaan rekaman yang dewasa ini menjamur.
”Ribuan band menciptakan lagu, namun hanya Efek Rumah Kaca yang berbeda, Mengapa?”
- Cinta adalah segalanya
- Tidak ada tema lain
- Tuntutan pasar
- Selera dan kuping melayu
Silahkan dijawab.
Free download mp3 Efek Rumah Kaca dalam album Kamar Gelap, silahkan kunjungi link di bawah ini:
http://www.4shared.com/dir/11918917/bdded441/Efek_Rumah_Kaca_-_Kamar_Gelap__2008_.html.
Hari ini, Kamis 9 April 2009, adalah momentum penentu rangkaian usaha para Calon Legislatif (Caleg) dan Partai Politik (Parpol) dalam berkampanye. Kampanye yang digelar sejak 16 Maret hingga 5 April 2009, telah menghabiskan miliaran rupiah untuk sebuah usaha persuasi berbentuk iklan, poster, spanduk, konvoi, hingga konser musik.



