OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO
Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Banyak orang menganggap bahwa komunikasi itu mudah dilakukan karena biasa dilakukan sejak lahir. Hanya bila seseorang memasuki suatu pengalaman di mana proses komunikasi yang biasa dilakukan tersebut rusak atau “macet”, baru ia menyadari bahwa komunikasi itu ternyata tidak mudah.
Rosady Ruslan menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Konsepsi dan Aplikasi (2006), bahwa peran komunikasi sangat penting bagi manusia dalam kehidupan sehari–hari, sesuai dengan fungsi komunikasi yang bersifat:
1. Persuasif (to persuade). Inti dari fungsi komunikasi adalah menggerakkan, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku seseorang.
2. Edukatif (to educate). Terjadinya pertukaran informasi yang berupa ilmu pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya.
3. Informatif (to inform). Komunikasi yang mengandung muatan persuasif dalam arti bahwa pembicara menginginkan pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang disampaikannya akurat dan layak untuk diketahui.
4. Menghibur (to entertain). Secara tidak langsung komunikasi dapat membantu melupakan persoalan hidup seseorang.
Pemaparan di atas adalah teori dasar ketika seseorang mempelajari ilmu komunikasi, namun apakah teori tersebut telah dipraktikan secara baik dan benar oleh para mahasiswa, praktisi dan pelaku komunikasi? Pertanyaan tersebut adalah suatu tanda tanya besar.
Saya mencoba membahas komunikasi dalam konteks penyiaran televisi, mengapa saya memilih angle tersebut? Karena televisi memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Oleh karena itu, para pekerja, praktisi dan profesional televisi harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan.

Pernyataan di atas adalah fungsi televisi sebagai media massa. Setujukah Anda? Faktanya, banyak program televisi di Indonesia yang tidak menjalankan fungsi komunikasi secara utuh. Sebagian besar dari ”mereka” meninggalkan fungsi ’edukatif’ dari esensial fungsi komunikasi. Mengapa demikian? Mungkin karena lupa, atau karena rating, atau karena tidak memiliki background pendidikan komunikasi, atau karena keinginan khalayak, atau karena hanya mengikuti keinginan bos besar dan para petinggi televisi tempat mereka bekerja.

Program televisi secara substansial adalah seni penciptaan karya berbentuk audio dan visual. Sebelum berkarya, seorang pekerja televisi harus memposisikan diri sebagai penonton agar mengetahui secara pasti target penonton yang akan dituju, agar program yang dibuat mempunyai karakter yang kuat, tidak murahan dan tidak membodohi.
Seorang Reporter, Asisten Produksi, Produser, Kamerawan, Editor, Programer, sampai pada Pemimpin Redaksi dan Dewan Redaksi, harus mempunyai visi mengembangkan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pikiran dan kreativitasnya. Tidak hanya bermodalkan kreativitas yang dewasa ini justru membodohi, seorang pekerja televisi layaknya mempunyai dasar pemikiran yang terkait dengan etika dan estetika. Seluruh proses ini harus diimbangi dengan mempertimbangkan dampak yang akan diterima oleh penonton.
Tidak disangka, sebuah benda elektronik berbentuk kotak yang dicitrai gambar bergerak dan suara, sangat mempengaruhi sosial keseharian individu. Anda pasti pernah mengucapkan kalimat:
1. Kita? Elo aja kali gue enggak
2. Yaiyalah, masa yaiyadong. Mulan aja Jameelah masa Jameedong
3. A, B, C, D, Aduh Bo’ Cape Deh?
4. dan sebagainya
Jargon-jargon di atas, adalah contoh kecil pengaruh televisi. Tidak hanya jargon, tanpa sadar masyarakat terperangkap oleh sebuah format program yang frekuensi siarannya menyaingi program berita. Bayangkan, pun jam 7 (tujuh) pagi masyarakat harus menelan informasi seputar masalah pribadi dan gaya hidup para artis yang serba hedonis. Alhasil, program yang menurut saya tidak termasuk kategori jurnalistik tersebut, berhasil membius masyarakat untuk mengikuti tingkah artis dan memicu konsumtivisme.
Kemanakah program kuis? Dimana program yang mengangkat kebudayaan nusantara? Masih relevankah drama berseri yang sampai tengah malam masih siaran? Entah karena kehabisan materi tayang? Atau karena tuntutan bisnis. Yang ada hanyalah eksploitasi kehidupan masyarakat yang hanya menjual nilai konyol murahan (saya tidak mengatakan reality show). Atau Membodohi khalayak dengan cengeng-cengengan (saya tidak mengatakan sinetron), yang inti cerita melulu seperti itu. Ironis memang. Tapi inilah wajah pertelevisian Indonesia.
Berhati-hatilah dalam menonton sebuah program. Coba renungkan, Apakah Anda hanya INGIN menonton, ataukah Anda memang merasa PERLU menonton program tersebut. Karena program yang baik adalah program yang memang DIINGINKAN dan DIPERLUKAN khalayak. Selamat memilih tontonan.
Semoga tulisan ini dapat membuka perspektif para profesional yang mengaku dirinya adalah pakar komunikasi.
keren…siipp…oke dit…lw emang tampan…!!!, kalo ga cepet2 bebenah neh industri audio visual ini mau jadi apa bangsa kita…tapi inget men…gw juga menyalahkan penonton juga alias masyarakat kita sendiri. kalo udah tau efek ny jelek!!ngapain juga ditonton..ngapain juga ngikutin jargon2 yang lw jelasin diatas..mending matiin dih tuh TV trus tidur…he2…
Komentar oleh diman ganteng — Desember 22, 2008 @ 1:54 pm |
gue suka gaya tulisan u, keren sih, sumber – sumbernya juga oke. tapi kok kayanya nge judge banget yah, emang ga da segi positifnya gitu?
Komentar oleh paulin — Desember 25, 2008 @ 6:58 am |
tambahin napa tulisannya hehehe….
Komentar oleh paulin — Maret 6, 2009 @ 2:12 am |
kritisnya buuung……
tuh ade gue yg kecil jadi korbannya
Komentar oleh eby — Maret 27, 2009 @ 7:42 pm |
televisi Indonesia harus berbenah diri.
berkaca dari stasiun TV asing.
Komentar oleh aditampan — April 9, 2009 @ 2:26 pm |
aku mo tanya tu fungsi komunikasi d atas termasuk fungsi dan peran humas kan?
cepet d jawab ya
Komentar oleh silvia — November 26, 2009 @ 5:33 pm |