eng.. ing.. eng..

Maret 9, 2009

Fenomena Sosial Politik dari Kacamata Efek Rumah Kaca

Filed under: Orkes Pelipur Lara,Sosialita — Adit @ 3:38 pm

OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO

Musik pop adalah aliran musik yang paling banyak digemari oleh masyarakat tanah air, bahkan dunia. Mayoritas materi liriknya bertemakan cinta. Keberadaanya sangat eksis dan banyak mempengaruhi kemunculan beragam aliran musik lain. Secara substansial, jenis musik ini easy listening dan banyak mewakili perasaan cinta seseorang.

Lalu bagaimana jika musik lokal didominasi tema cinta? Hufh…. Titik jenuh menanti.

first-album-efek-rimah-kacaEfek Rumah Kaca (ERK), sebuah band beranggotakan Cholil Mahmud (Gitar & Vocal), Adrian Yunan Faisal (Bass & Vocal) dan Akbar Bagus Sudibyo (Drum), mencoba memberi alternatif dan merubah image musik pop. Debut album perdananya di tahun 2007 bertajuk Efek Rumah Kaca, diusung oleh Paviliun Record. Uniknya, band asal Jakarta ini menggunakan fenomena Sosial Politik (Sospol) dan kehidupan sehari-hari sebagai bahan mentah, mengolahnya dengan mesin syair yang mendidik, kemudian mengemasnya secara cantik dan minimalis. Selusin lagu berkualitas ditawarkan untuk Anda.

Jujur, ERK mewakili kejenuhan saya terhadap banyak band lokal yang menemui jalan buntu akan variasi konsep dan tema. Apalagi industri major lable yang memperkosa penampilan, mengkebiri kreativitas, dan membangun imperium asal laku di pasar. Karena itu, untuk musik dalam negeri, saya lebih interest kepada band indie yang tiada henti bereksperimen dan berinovasi.

Mengapa band Indonesia selalu menggunakan nada minor, liriknya berisi tentang perselingkuhan, patah hati dan kerinduan. Apa karena tuntutan pasar, atau memang kodrat kita sebagai bangsa Melayu? ERK mencoba melawan arus dengan lagu berjudul Cinta Melulu. Band yang terbentuk sejak 2001 ini semakin menambah deras arus perlawanan yang ditujukan kepada individu yang dibutakan oleh cinta dan bersikap over karena cinta, hal ini ditegaskan dalam tembang Jatuh Cinta Itu Biasa Saja.

Belanja Terus Sampai Mati memperingatkan kaum urban agar berhati-hati terhadap wabah konsumtivisme. Penyakit sosial ini menyerang naluri kemudian membentuk pola pikir masyarakat untuk selalu menjadi konsumen, konsumen, dan konsumen. Bukan menjadi konseptor ataupun penemu. “Awal dari sebuah kepuasan, kadang menghadirkan kebanggaan. Dalih keangkuhan.” Kapan Indonesia menjadi bahan pembicaraan penghuni bumi atas dedikasinya mengevolusi peradaban? Ironisnya ini hanya fantasi. Tidak ada manusia seperti Einstein atau Bill Gates untuk Indonesia, habis sudah putra bangsa seperti Habibie.

Nuansa politis kental disajikan dalam lagu Jalang, yang mengisahkan kontroversi Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi. Adanya Perbedaan misi dengan mereka yang merasa diri paling suci, menjadi esensi terciptanya lagu ini. Setiap kali mendengar Di Udara, saya selalu merinding dibuatnya. Track tersebut akan mengingatkan kita pada misteri kematian Aktivis HAM Munir. Saat mendengar lirik; “Ku bisa tenggelam di lautan, aku bisa di racun di udara, aku bisa terbunuh di trotoar jalan,” ERK selalu dapat menghadirkan semangat keberanian Alm. Cak Munir menentang kediktatoran orde baru.

second-album-kamar-gelapDi penghujung 2008, ERK meluncurkan album kedua bertajuk Kamar Gelap yang berisikan 12 lagu. Masih dengan jalur independen, kini mereka berada di bawah bendera Aksara Record. Trio jenius ini menyajikan musik dengan bumbu yang lebih ‘hore’ ditambah penyedap rasa distorsi, namun tetap menyediakan menu yang edukatif. Judul album ini diadopsi dari salah satu judul lagu mereka, yaitu Kamar Gelap. ”Prinsip dasar fotografi adalah mengubah (film) negatif menjadi positif. Kami berharap lagu-lagu kami juga bisa seperti itu,” pernyataan tersebut diutarakan Cholil, kepada Kompas (Sabtu, 3 Januari 2009. Hal. 32).

Single album kedua berjudul Kenakalan Remaja di Era Informatika, membuka wacana kita akan krisis moralitas yang melanda remaja. Maraknya video porno yang dilakoni pasangan remaja membuktikan bahwa dewasa ini etika dikalahkan oleh nafsu birahi. “Ouw… Nafsu menderu-deru, bikin malu. Mengapa kita tersesat arah? Mengapa kita tak bisa dewasa?”

Kepedulian terhadap minat membaca yang dikemas dengan petikan gitar nan indah serta merdunya perpaduan vocal tinggi dan backing vocal yang rendah, dilantunkan dalam lagu Jangan Bakar Buku. Menurut ERK, kata demi kata dalam sebuah buku dapat menghantarkan fantasi, dan bait-baitnya memicu anestesi. Secara tidak langsung mereka mengajak masyarakat untuk mencintai dan membudayakan membaca.

Kritik politik dan apatisme terhadap para pemimpin bangsa, diintepretasikan dalam tatanan bahasa lugas pada tembang Mosi Tidak Percaya. ERK menyentil para penguasa dengan lirik pedas. ”Kau tak berubah, selalu mencari celah, lalu semakin parah, tak ada jalan tengah.” Lagu ini adalah surat peringatan untuk para pemegang mandat, jangan anggap kami tak berdaya, kami tak mau lagi diperdaya. Kami tak bisa dibeli.

kacamata-erk-made-in-aditampan-

Mendekati momentum pesta demokrasi, ERK mengisi kolom Obrolan A-Politis dalam rubrik Mandat Rakyat di surat kabar Kompas, yang dimuat setiap Sabtu sejak awal Januari 2009. Opini yang diangkat merupakan isu-isu yang berkaitan dengan Pemilu 2009, mulai dari tingkah aneh para Caleg, perebutan kursi Presiden, sampai pada atribut Parpol yang merusak keindahan sudut kota. Saya selalu membaca kemudian mengkliping tulisan-tulisan mereka. Congratz…. Prestasi yang membanggakan, sebuah band mengisi kolom secara rutin tiap minggunya di sebuah surat kabar berskala nasional. Ada baiknya anak-anak band mengikuti jejak ERK, membuktikan eksistensinya dengan cara-cara positif, kritis, elegan dan mendidik.

Mengutip kalimat indah dari buku ”Setengah Isi, Setengah Kosong,” karya Parlindungan Marpaung, beliau mengutip dan menulis kuotasi yang sempat menjadi goresan tinta emas dunia kewirausahaan. ”Ribuan orang melihat apel jatuh, namun hanya Isaac Newton yang bertanya: Mengapa?

Dari pepatah di atas, saya menarik kesimpulan kemudian membuat soal pilihan berganda yang semestinya dijawab oleh semua band, manajer, produser, sampai pada perusahaan rekaman yang dewasa ini menjamur.

”Ribuan band menciptakan lagu, namun hanya Efek Rumah Kaca yang berbeda, Mengapa?”

  1. Cinta adalah segalanya
  2. Tidak ada tema lain
  3. Tuntutan pasar
  4. Selera dan kuping melayu

Silahkan dijawab.

 

Note:

Free download mp3 Efek Rumah Kaca dalam album Kamar Gelap, silahkan kunjungi link di bawah ini:

http://www.4shared.com/dir/11918917/bdded441/Efek_Rumah_Kaca_-_Kamar_Gelap__2008_.html.

13 Komentar »

  1. akhirnya qt pny pilihan alternatif lain dlm medengarkan musik…this is the ERK..

    Komentar oleh dina — Maret 10, 2009 @ 4:11 am | Balas

  2. gw kasih jawaban dari pertanyaan lo yaa ditt,,
    kalo menurut gw, yg c.Tuntutan Pasar..
    sekarang itu nge-band kaya dijadiin mata pencarian.
    bermusik=cari duit. kalo nyiptain lagu yg pasar ga suka, yaa ga laku.. ga tenar.. ga kaya.
    gw sebenernya pendatang baru pendengar efek rumah kaca (lo termasuk yg ngeracunin), tapi gw jadi suka skrg. ; )
    krn mreka punya ‘mesin syair’ yg kaya lo bilang..
    gw dukung the next efek rumah kaca. biar ga mereka doank yg beda. (baca: lo dan band lo). hee

    Komentar oleh age calon istri nicholas saputra — Maret 10, 2009 @ 1:46 pm | Balas

  3. oiya.. kacamata handmade lo yaa? merk aditampan gituu.. jiah!

    Komentar oleh age calon istri nicholas saputra — Maret 10, 2009 @ 1:47 pm | Balas

  4. Sun Glasses Wayfarer berubah nama menjadi Aditampan ???

    Komentar oleh Vira (Temennya Age) xp — Maret 13, 2009 @ 6:02 am | Balas

    • iya dong, keren kan.
      hehehee

      Komentar oleh aditampan — April 9, 2009 @ 2:28 pm | Balas

  5. Hahahaha..
    Adit2x.
    Lo bener bnr2x ngefans sm efek rumah kaca y?
    Gapapa dit.
    Tapi gue salut sama tulisan lo!
    Kayak ga penting tapi sebenernya penting banget..
    I’m proud of you!

    Komentar oleh aidilakbar.blogspot.com — Maret 24, 2009 @ 2:14 am | Balas

    • thanks a lot.
      semoga banyak lahir band2 jenius lain seperti ERK.
      amin…

      Komentar oleh aditampan — April 9, 2009 @ 2:27 pm | Balas

  6. pertama gue denger, apa sih efek rumah kaca? tapi,,, gila syairnya mak nyus baget
    cara mengkritik mereka cerdas, ga ngebosenin dan jadi jawaban atas kebosenan gue sama senua tema cinta yang diangkat jadi lagu…
    emang ga ada yang laen????
    dan ERK jadi solusi,,
    kita emang butuh band kaya ERK,,dan kayanya lo yang bakal jadi penerusnya yah??? heheheh

    Komentar oleh paulin — Maret 27, 2009 @ 1:56 am | Balas

  7. kritik dikit
    itu yg harus jawab band, manajer, produser, dan perusahaan rekaman, atau para pembaca dit? hehe

    gw pernah nonton film judulnya “palm”
    ada pesan ayah kpada anaknya di film itu,
    “nak kalau kau lahir nanti, jgn masuk kedalam sistem. jgn jdi aktivis, dsb. jadi gembel saja. karna ketika kamu masuk dalam sisitem, kamu akan menjadi sama. lalau kamu akan berjuang mati-matian untuk jadi berbeda.”

    semua orang muak dgn keseragaman.
    tapi sulit juga untuk jadi berbeda.
    karena akan jadi minor diantara yg mayor.

    mending jdi gembel aja. atau jdi org gila..

    hahaha. apa sih gw.

    keren dit tulisan lo..

    Komentar oleh mira.merre — April 9, 2009 @ 1:48 pm | Balas

    • selama idealisme msh bermalam dalam tidur lo, pertahankan.
      dare to be different. masa transisi Idealisme VS Komersil pasti datang. itu pasti.

      aktivis yg swaktu msh duduk di bangku kuliah, gembar-gembor mslh HAM, kesejahteraan, dll. Ketika impiannya duduk d parlemen trcapai, dia lupa misi. disorientasi. tp ini realita.

      Yg jelas, gw mau hdp layak dan cukup. gw ga mau jd gembel. hehehe
      sistem emang kurang ajar. tp ini batasan untuk kita, kuliah aj ada sistemnya.
      Apalagi dunia kerja, mengabdikan diri dgn manusia tamak. lambat laun idealisme meluntur menuntut komersil. huffftt.

      Hasta La Victoria Siempre.

      Komentar oleh aditampan — April 9, 2009 @ 2:14 pm | Balas

  8. Efek Rumah Kaca memang keren. Salut
    tapi Pure Saturday lebih keren

    Komentar oleh pure saturday fans — Agustus 22, 2009 @ 5:13 pm | Balas

  9. knapa seh cover album’a kambing….? trus knpa juga hrus d’tu”p pke penjepit baju…..?
    d’ jwb yah……!! peting ne soal’a

    Komentar oleh tommy sudiro — Desember 29, 2009 @ 9:57 am | Balas

    • waduwh… gw juga kurang tau masalah cover album mereka.
      mungkin lo bisa tanya langsung ke myspace ERK. atau gabung aja ke pages ERK di Facebook…
      gud lak ya tommy…

      Komentar oleh aditampan — Januari 17, 2010 @ 8:12 am | Balas


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.