<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>eng.. ing.. eng..</title>
	<atom:link href="http://aditampan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aditampan.wordpress.com</link>
	<description>welcome to adit's blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 18:17:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aditampan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>eng.. ing.. eng..</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aditampan.wordpress.com/osd.xml" title="eng.. ing.. eng.." />
	<atom:link rel='hub' href='http://aditampan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gayung Dipakai Minum. Gelas Dipakai Mandi</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com/2010/07/22/gayung-dipakai-minum-gelas-dipakai-mandi/</link>
		<comments>http://aditampan.wordpress.com/2010/07/22/gayung-dipakai-minum-gelas-dipakai-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 18:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aditampan.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Gayung dipakai minum. Gelas dipakai mandi.&#8221; Kalimat itu diucapkan Nur Rachmiati, atau yang akrab disapa Umi, pengurus Panti Asuhan Nurul Jannah. &#8220;Simpel, tapi penuh makna.&#8221; Begitulah komentar salah satu teman menanggapi kalimat tersebut. Saya pun berpendapat demikian. Relevansi antara gayung dan mandi, tidak dapat dipisahkan. Begitu juga dengan gelas dan minum. Memang sama-sama untuk menampung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=132&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Gayung dipakai minum. Gelas dipakai mandi.&#8221; Kalimat itu diucapkan Nur  Rachmiati, atau yang akrab disapa Umi, pengurus Panti Asuhan Nurul  Jannah.</p>
<p>&#8220;Simpel, tapi penuh makna.&#8221; Begitulah komentar salah satu teman  menanggapi kalimat tersebut. Saya pun berpendapat demikian.</p>
<p>Relevansi antara gayung dan mandi, tidak dapat dipisahkan. Begitu juga  dengan gelas dan minum. Memang sama-sama untuk menampung air. Tapi jika  fungsi utamanya diubah, itu jelas suatu kesalahan. Karena keduanya  memiliki nilai yang berbeda.</p>
<p>Mungkin ada yang berpendapat, itu hanyalah kesalahan kecil. Tak perlu  dibesar-besarkan. Tapi jika dilakukan berulang-ulang, ini bisa menjadi  kebiasaan buruk.</p>
<p>Esensinya, akal manusia dapat mengetahui dan memilah mana yang benar dan  mana yang salah. Tapi, sering kali kita menganggap yang salah itu dapat  dibenarkan. Bahkan bisa berbanding terbalik, yang benar jadi salah,  yang salah jadi benar.</p>
<p>Mungkin, hal ini menjadi salah satu penyebab korupsi di Indonesia telah  membudaya. Cakupan moralnya berubah menjadi sesuatu yang dapat  dibenarkan. Apalagi, dilakukan secara massal dan terus menerus. Hingga  akhirnya, korupsi dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Dimaklumi.  Aristoteles menyebutnya; Mob Rule. Apa yang dilakukan banyak orang,  itulah yang menjadi standar sekaligus aturan.</p>
<p>Belajar dari &#8220;Gayung dan Gelas,&#8221; seyogyanya kita dapat mengevaluasi diri  atas kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini sering kita benarkan.  Semoga sebuah gayung tetap menjaga nilai dan fungsinya sebagai alat  bantu yang digunakan untuk mandi. Dan sebuah gelas tetap digunakan untuk  minum.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aditampan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aditampan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aditampan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aditampan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aditampan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aditampan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aditampan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aditampan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aditampan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aditampan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aditampan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aditampan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aditampan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aditampan.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=132&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aditampan.wordpress.com/2010/07/22/gayung-dipakai-minum-gelas-dipakai-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/31b56cae69ef0073063530dc6caba6ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aditampan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Simbol Keperkasaan Bangsa</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com/2010/07/22/simbol-keperkasaan-bangsa/</link>
		<comments>http://aditampan.wordpress.com/2010/07/22/simbol-keperkasaan-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 18:07:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosialita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aditampan.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Aditya Panji Rahmanto Sebuah pepatah mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya. Bagindo Zainal Wahab, seorang veteran perang angkatan 45, berjalan dengan langkah kecil yang lambat. Dari kamarnya yang berada di lantai atas, Ia turun menghampiri saya di ruang tamu. Kami bersalaman. Ia mempersilahkan saya duduk. Kopiah putih menutupi rambutnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=126&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Oleh Aditya Panji Rahmanto</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><em>Sebuah pepatah mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya.</em></p>
<p>Bagindo Zainal Wahab, seorang veteran perang angkatan 45, berjalan dengan langkah kecil yang lambat. Dari kamarnya yang berada di lantai atas, Ia turun menghampiri saya di ruang tamu. Kami bersalaman. Ia mempersilahkan saya duduk.</p>
<p>Kopiah putih menutupi rambutnya yang beruban. Syal rumbai bermotif kotak, Ia kalungkan di lehernya. Banyak bintik hitam di sekitar wajahnya yang gempal. Mata sipitnya dikaruniai bola mata berwarna coklat. Ia tidak membiarkan kumis tumbuh di atas bibirnya yang tebal dan hitam. Tapi Ia membiarkan janggut menghiasi dagunya.</p>
<p>Saya sempat tidak enak hati karena harus membuatnya turun dari kamar. Ia kelelahan. Nafasnya terengah-engah. Lily Fatimah, istrinya, langsung memberinya segelas air. “Maaf ya, Bapak sakit asma. Jadi nafasnya megap-megap,” kata Lily.</p>
<p>Saya menemui Zainal pada 20 Juli 2010, di rumahnya, sekitar 500 meter dari terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Sejak 1965, Zainal bersama keluarganya sudah menempati rumah berukuran 7&#215;15 meter itu. Meski berada di pemukiman padat penduduk, lingkungan rumahnya terbilang asri. Banyak pot tanaman menghiasi gang-gang kecil di sana.</p>
<p>Zainal yang kini berusia 78 tahun, mulai membuka pembicaraan. “Apa yang bisa saya bantu? Tapi saya sudah agak pikun.”</p>
<p>Di Indonesia, ada dua kategori veteran. Pertama, Veteran Pejuang Kemerdekaan. Meliputi para veteran yang berjuang dalam meraih kemerdekaan, sejak 1945 sampai 1949. Zainal termasuk kategori ini. Kedua, Veteran Pembela Kemerdekaan. Yaitu para veteran yang bertempur selama Trikora, Dwikora, dan Timor Timur, sejak 1975 sampai 1976. Pensiunan tentara yang tidak pernah berperang melawan musuh dari luar, tidak mendapat predikat veteran, hanya purnawirawan.</p>
<p>Sore itu, Zainal mengisahkan perjuangannya di tanah kelahiran, desa Sungai Limau, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ayahnya, Abdul Wahab, adalah kepala adat di desa itu. Sejak kecil, Zainal sering disuruh Ayahnya menggembala kerbau, sambil menjadi mata-mata jika ada pasukan Belanda mendekat ke desa mereka. Dengan memasang anak kecil sebagai mata-mata, pasukan Belanda tidak akan menaruh curiga.</p>
<p>Suatu hari, pada 1945, ketika usianya 13 tahun, Zainal disuruh Ayahnya pergi ke kota Pariaman, untuk mengambil surat penting dari Komandan Kompi Pagaruyung. Dalam perjalanan pulang, Ia dihadang beberapa tentara Belanda. Zainal ditanya dengan bahasa Belanda. Tapi Ia tak mengerti. Ia sudah ketakutan kalau-kalau pasukan Belanda itu memeriksa kantung celananya. “Entah apa jadinya jika surat itu direbut Belanda. Saya sendiri tak tahu isi surat itu,” katanya sambil menggelengkan kepala. Mungkin, karena Zainal belum dewasa dan terlihat lugu, tentara Belanda mempersilahkannya melanjutkan perjalanan tanpa memeriksa barang bawaannya.</p>
<p>Pada 1947, saat usianya 15 tahun, Zainal bergabung dengan Angkatan Darat Republik Indonesia. Ia tergabung dalam Kompi Bakapak yang berinduk di Pagaruyung, Padang Pariaman. Saat itu, usianya masih sangat belia. Tapi itu tak menghalangi niatnya untuk berjuang. Semangat kemerdekaan adalah modal utamanya. Zainal terpaksa membuat identitas palsu, dengan menuakan umurnya menjadi 18 tahun. Sebenarnya Ia kelahiran 11 Januari 1932, tapi tahunnya dipalsukan menjadi 1929. Alhasil, Ia bisa ikut berjuang melawan kolonial Belanda.</p>
<p>Baku tembak pertamanya dengan pasukan Belanda, terjadi pada Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948. Zainal berjuang mempertahankan desa Lubuk Alung, Padang Pariaman. Tapi sayang, Lubuk Alung berhasil direbut Belanda. Dalam Agresi Militer II ini, Belanda melanggar Perjanjian Linggarjati. Yang menyebutkan, Belanda mengakui secara <em>de Facto </em>wilayah Republik Indonesia meliputi Pulau Jawa, Sumatera dan Madura.</p>
<p>“Pasukan Pagaruyung punya persenjataan paling lengkap di Sumatera Barat. Karena itu, kami diinstruksikan pindah ke Jakarta, di tahun 1949. Untuk membantu pasukan Jakarta,” kata Zainal. Tapi, pada 1950, Zainal memutuskan keluar dari Angkatan Darat.</p>
<p>Selama berkisah, Zainal tak banyak menggerakan tangan dan anggota tubuh lainnya. Nada bicaranya pun datar. Sering kali Ia harus melihat catatannya untuk mengingat masa-masa perjuangan itu. Tapi, sering kali juga Ia menceritakan hal yang sama berulang-berulang. “Saya sudah lupa,” ujarnya.</p>
<p>Berbicara panjang membuatnya terengah-engah, lalu diikuti dengan bersendawa. Zainal harus berhenti sejenak untuk mengumpulkan energi.</p>
<p>Dari arah tangga, Lily berjalan ke arah saya, membawa map bening berwana kuning berisi dokumen. Ibu enam anak ini memberi tahu saya, bahwa suaminya tidak boleh terlalu lelah. Saya mengerti maksud ucapan itu. Zainal tak boleh menguras energinya dengan mengingat kejadian masa lalu. Karena akan berdampak pada kesehatannya. “Ibaratnya komputer, Bapak itu sudah eror,” kata Lily sambil tertawa. Zainal hanya tersenyum dingin mendengar ucapan itu.</p>
<p>Lily menyodorkan kartu tanda anggota veteran, piagam penghargaan dan medali perjuangan angkatan 45, yang semuanya atas nama Bagindo Zainal Wahab. Lily tak segan-segan memperlihatkan slip gaji tunjangan veteran yang pertama kali mereka terima, tertanggal 16 November 1995. Saat itu, Zainal menerima tunjangan sebesar Rp. 129.600,-. Lily mengumpulkan seluruh slip tunjangan yang mereka terima tiap bulannya.</p>
<p>Sebenarnya, Zainal tidak mau menerima tunjangan veteran itu, dengan alasan, berjuang demi kemerdekaan merupakan kewajiban warga negara. “Saya berperang hanya untuk kemerdekaan. Saya tidak mengharap apa-apa,” ujarnya.</p>
<p>Pertama kali, Ia ditawarkan dispensasi khusus ini pada 1967. “Waktu itu, petugas (Departemen Urusan Veteran dan Demobilisasi) mendatangi rumah saya. Meminta agar saya mengurus tunjangan veteran ini. Tapi saya tidak mengurusnya.”</p>
<p>Penolakan ini juga didasarkan pada keadaan ekonomi keluarga Zainal, yang saat itu, tergolong berada. Pada 1965, Ia mendirikan CV Bina Upaya. Usaha yang bergerak di bidang percetakan dan jasa penyediaan alat tulis kantor ini, terbilang sukses.</p>
<p>Kali keduanya, pada pertengahan 1995, seorang petugas dari Sub Direktorat Departemen Pertahanan, mendatangi rumahnya lagi. Menyarankan agar Zainal mau mengurus administrasi dispensasi khusus ini.</p>
<p>Putri tertua Zainal, Epi Nurhafizah, membujuk Ayahnya agar mau mengambil dispensasi khusus itu. “Ayah ambil saja. Ini <em>kan</em> hak Ayah juga. Sekarang Ayah masih bisa bekerja. Tapi kalau sudah tua nanti, Ayah pasti butuh uang lebih,” tukas Lily meniru ucapan putrinya. Dengan dorongan dan paksaan putrinya, Zainal pun mengurus administrasi dispensasi khusus tersebut.</p>
<p>“Sekarang (era reformasi) sudah agak mendingan lah. Apalagi Pak SBY <em>ngasih</em> dana kehormatan,” kata Lily. “Perhatian pemerintah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tinggal dipertahankan saja,” sambung Zainal, pasrah.</p>
<p>Saya meminta slip tunjangan terakhir yang Zainal terima. Lily memperlihatkan slip bulan Juni dan tunjangan ke-13, tahun 2010 ini, sebesar Rp. 1.011.000,-. Jumlah tersebut belum termasuk dana kehormatan, sebesar Rp. 250.000,-.</p>
<p>Sejak dana kehormatan veteran ini diberlakukan pada 2008, Zainal belum pernah mendapatkannya, karena tidak mau mengurus administrasi. Lagi-lagi Zainal mengabaikan sesuatu yang menjadi haknya.</p>
<p>Kini, Zainal hanya ingin menghabiskan masa tuanya dengan hidup tenang. Ia mengingatkan, mengenang jasa para pahlawan, tak cukup dengan memperingati Hari Pahlawan pada 10 November saja. Menjamin hari tua para veteran juga tidak cukup. Dilakukan upacara pemakaman ala militer dan menguburnya di Taman Makam Pahlawan, juga tidak perlu. “Yang paling penting adalah, meluruskan sejarah yang sempat belok karena ada kepentingan di balik kepentingan,” harap Zainal.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aditampan.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aditampan.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aditampan.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aditampan.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aditampan.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aditampan.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aditampan.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aditampan.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aditampan.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aditampan.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aditampan.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aditampan.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aditampan.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aditampan.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=126&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aditampan.wordpress.com/2010/07/22/simbol-keperkasaan-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/31b56cae69ef0073063530dc6caba6ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aditampan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masihkah Layak Skripsi Jadi Syarat Kelulusan?</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com/2009/06/26/masihkah-layak-skripsi-jadi-syarat-kelulusan/</link>
		<comments>http://aditampan.wordpress.com/2009/06/26/masihkah-layak-skripsi-jadi-syarat-kelulusan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 10:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aditampan.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO Ga terasa ya udah skripsi. Pake metode apa? Kualitatif atau Kuantitatif? Observasi, questioner, atau angket? Sidangnya kapan? Sukses ya.. ! Orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya mengenakan toga dikepala dengan pita yang sudah berada di sisi kanan topi toga. Momentum tersebut pasti diabadikan dengan media foto, kemudian dicetak dengan ukuran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=120&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO</em></strong></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Ga terasa ya udah skripsi. Pake metode apa? Kualitatif atau Kuantitatif? Observasi, questioner, atau angket? Sidangnya kapan? Sukses ya.. !</em></p>
<p>Orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya mengenakan toga dikepala dengan pita yang sudah berada di sisi kanan topi toga. Momentum tersebut pasti diabadikan dengan media foto, kemudian dicetak dengan ukuran yang cukup besar, dibingkai, dan dipajang di ruang tamu, sebagai informasi bahwa anaknya telah sarjana.</p>
<p>Sebelum foto wisuda terpampang dan satuan kredit semester terpenuhi selama perkuliahan, tibalah saatnya seorang mahasiswa berjuang ekstra menyelesaikan tugas akhir yang menjadi simbol kelulusan jenjang pendidikan Strata Satu (S1). Mulai dari mengajukan judul, mendatangi Dosen Pembimbing (DP) yang belum tentu memiliki waktu luang, merangkai kata agar menjadi bahasa ilmiah, merevisi isi bab yang terlanjur <em>dicorat-coret</em> DP, pergi ke perpustakaan untuk mengumpulkan materi, mendatangi lokasi atau objek penelitian, melewati birokrasi yang melelahkan, menguraikan hasil penelitian yang membuat kepala pusing, membuat materi presentasi, sampai tidak bisa tidur karena stres memikirkan sidang. Syukur-syukur jika semuanya berjalan lancar. Inilah cerita singkat proses menyusun skripsi.</p>
<p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, 2005, Skripsi adalah; karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya.</p>
<p>Dari pengertian di atas, dalam konsep kekinian, makna skripsi sebagai karangan ilmiah rasanya menjadi sebuah utopia (jauh dari kenyataan). Jika saya berargumen, skripsi bukan lagi karangan ilmiah. Apalagi dalam studi ilmu sosial. Skripsi kini adalah sebuah karangan yang benar-benar <em>ngarang</em>, disusun menggunakan metode <em>copy-paste, </em>validitas datanya tak mampu mewakili jawaban masyarakat, dan tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.</p>
<p>Dalam program acara debat Calon Presiden kedua yang disiarkan hampir di semua stasiun televisi nasional, pada Kamis (25/6) malam lalu, ekonom Eviliani yang bertindak sebagai moderator mengajukan pertanyaan terkait masalah pengangguran. ”Pengangguran terdidik –sarjana yang belum mendapat pekerjaan– mencapai angka 50,3 persen,” kata Eviliani sambil melihat data yang dipegangnya. Ia menambahkan, jumlah wirausahawan di Indonesia tidak mencapai angka 2 persen dari jumlah total penduduk Indonesia.</p>
<p>Saya tercengang mendengar data tersebut, keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan.</p>
<p>Apakah benar wacana lapangan kerja yang minim menjadi penyebab meledaknya jumlah pengangguran, terutama pengangguran terdidik. Karena faktanya, setiap hari di suratkabar harian, selalu terpampang beragam lowongan pekerjaan.</p>
<p>Bagi saya, keprihatinan di atas erat kaitannya pada masalah pendidikan. Skripsi yang bertele-tele menjadikan seorang calon intelektual hanya mampu berwacana, tapi tak mampu menjadikan wacananya menjadi kenyataan.</p>
<p>Argumen tersebut bukan berarti tidak mempunyai dasar. Saya punya alasan mengapa skripsi tidak lagi relevan menjadi syarat kelulusan.</p>
<ol>
<li>Saya      yakin, hanya sedikit mahasiswa yang murni mengerjakan sendiri isi/materi      skripsinya. Tanpa ada plagiat, <em>copy</em>–<em>paste</em>, ataupun membayar jasa      seseorang untuk menyelesaikan skripsinya.</li>
<li>Apakah hasil      penelitian benar dan jujur adanya? Bukan lagi rahasia umum bahwa      manipulasi data atau hasil penelitian kerap dilakukan mahasiswa dalam      menyusun skripsinya. Jangankan skripsi, ironisnya, hasil penghitungan      suara Pemilu saja dapat dimanipulasi.</li>
<li>Apakah      di dunia kerja Anda dituntut untuk membuat skripsi? Jawabannya adalah,      tidak. Hingga saat ini, saya tidak pernah melihat lowongan kerja untuk      jabatan pembuat skripsi.</li>
<li>Pernahkah      Anda mempersentase, berapa persen keuntungan yang diperoleh dalam menyusun      skripsi. Lebih besar      mana dengan pengalaman praktik kerja lapangan atau magang kerja?</li>
<li>Apakah      skripsi tersebut bermanfaat? Untuk siapa? Masyarakat? Bangsa? Negara? Atau      jangan-jangan untuk diri sendiripun kontribusinya hanya sedikit.</li>
<li>Pernahkah      Anda menghitung lembaran kertas terbuang sia-sia hanya untuk menyelesaikan      satu bab skripsi Anda? Berapa      lembar yang direvisi dan digandakan? Silahkan hitung. Kemudian cukup Anda      bayangkan, berapa mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di kampus Anda?      Kotamadya? Propinsi? Indonesia? Lalu kaitkan dengan isu <em>global warming</em>, berapa juta pohon      yang ditebang untuk memenuhi permintaan kertas tersebut?</li>
</ol>
<p>Dari beberapa alasan saya di atas, notabene menimbulkan pertanyaan masihkah layak skripsi jadi syarat kelulusan? Mungkin cara berfikir saya terlalu praktis, tapi ini kenyataan.</p>
<p>Tak enak rasanya berbicara tanpa solusi. Solusi yang saya tawarkan lebih berorientasi pada praktik. Bagaimana jika skripsi yang bertele-tele itu digantikan dengan tugas/karya akhir. Jadi, tidak perlu ada penelitian yang berujung pada manipulasi data dan hasil. Untuk memperdalam pemahaman terhadap teori dan konsep, mahasiswa secara nyata mempraktikan disiplin ilmu agar mereka mempunyai pengalaman langsung di bidang studinya. Hal ini banyak diterapkan dalam jenjang pendidikan Diploma Tiga (D3).</p>
<p>Apa salahnya jika mahasiswa S1 dijadikan sumber daya profesional di bidangnya, seperti mahasiswa D3 yang secara cepat menerima materi dan spesifik mata kuliah sesuai studi.</p>
<p>Solusi pertama, mahasiswa harus memperbanyak praktik kerja lapangan ataupun magang kerja. Kampus menentukan kebijakan berapa kali para calon intelektual itu harus menempuh praktik kerja.</p>
<p>Bisa ditentukan berdasarkan berapa bulan mahasiswa harus praktik kerja, 3 bulan atau 6 bulan (satu semester). Tempat bekerja disesuaikan dengan disiplin ilmu. Bisa di perusahaan, instansi, organisasi, dll. Untuk mempermudah mobilitas mahasiswanya, pihak kampus seyogyanya membantu dengan memberikan surat ijin, surat permohonan ataupun rekomendasi, bahwa benar mahasiswa tersebut berkuliah di kampusnya. Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat mempelajari seluk beluk pekerjaan.</p>
<p>Dengan memperbanyak praktik, mahasiswa terbiasa dengan suasana kerja. Bahkan tidak menutup kemungkinan termotivasi untuk berwirausaha sesuai keahlian. Dengan begitu akan tercipta lapangan kerja baru, sekaligus membangun bangsa dengan caranya sendiri. Seperti yang diucapkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ”Berdirilah dengan otak sendiri, otot sendiri, dan kantong sendiri.”</p>
<p>Solusi kedua, jika skripsi masih terus diadakan, antara mahasiswa dan dosen pembimbing diharap mampu memaksimalkan pemanfaatan teknologi informatika web 2.0. Masyarakat Indonesia tergolong modern. Aktivitas sehari-harinya tidak pernah lepas dari perangkat komputer. Karena faktanya, Indonesia menempati rangking kedua pengguna ponsel Black Berry terbanyak di dunia.</p>
<p>Saat melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing, mahasiswa cukup menyerahkan <em>soft copy </em>(bukan <em>hard copy</em>) naskah skripsinya, kemudian dipresentasikan dan dibimbing di depan komputer atau laptop. Jadi, skripsi yang masih dalam tahap bimbingan, tidak perlu dicetak di atas kertas. Hanya skripsi yang ingin disidangkan dan skripsi yang sudah teruji saja yang nantinya akan dicetak. Selain memberi kepraktisan, hal ini tentu menghemat listrik dan kertas.</p>
<p>Praktik-praktik semacam ini sangat relevan dengan usaha <em>save our planet </em>yang sering dikampanyekan para pecinta lingkungan, terkait isu pemanasan global. <em>One man one tree, </em>juga menjadi program global pecinta lingkungan untuk mengurangi gas efek rumah kaca.<em> </em>Tapi jika skripsi masih terus diadakan sebagai syarat kelulusan, maka slogan tersebut hanya sebatas wacana, yang kemudian berubah menjadi <em>one man one skripsi. </em>Ini berarti, satu mahasiswa membuang banyak kertas. Ironis bukan?<strong> </strong></p>
<p>Jujur, saya lebih <em>interest</em> pada solusi yang pertama. Keunggulan memperbanyak praktik kerja adalah, mahasiswa secara nyata masuk dalam sistem dan mengenal birokrasi kerja. Praktik menjadikan mahasiswa sebagai sumber daya manusia yang matang. Tak menutup kemungkinan membuka perspektif untuk menjadi <em>enterpreneur</em> yang tangguh.</p>
<p>Black inovation. Sebuah kompetisi yang diselenggarakan oleh salah satu perusahaan rokok lokal terkemuka, yang bertujuan merangsang kreativitas anak bangsa untuk berinovasi membuat karya bermanfaat. Mengapa Departemen Pendidikan Nasional dan pakar pendidikan tidak berkaca dari program tersebut? Mengapa generasi muda tidak dirangsang untuk membuat sesuatu yang baru? Mengapa tetap memakai skripsi untuk meneliti sesuatu yang telah ada?</p>
<p>Daripada sibuk<em> </em>memaparkan teori dalam penulisan skripsi, lebih baik memperbanyak praktik yang berhubungan dengan dunia kerja. Dalam sebuah seminar di kampus saya, pengusaha sukses Bob Sadino mengatakan, manusia tidak butuh banyak teori, manusia butuh melangkah.</p>
<p>Pernyataan Bob Sadino mungkin dapat menjawaban pertanyaan mengapa jumlah pengangguran di Indonesia terus meningkat, terutama pengangguran terdidik? Pernyataan itu jugalah yang menjawab, mengapa banyak mahasiswa yang bekerja tidak sesuai dengan disiplin ilmunya?</p>
<p>Berminatkah Anda untuk melangkah?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aditampan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aditampan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aditampan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aditampan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aditampan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aditampan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aditampan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aditampan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aditampan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aditampan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aditampan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aditampan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aditampan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aditampan.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=120&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aditampan.wordpress.com/2009/06/26/masihkah-layak-skripsi-jadi-syarat-kelulusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/31b56cae69ef0073063530dc6caba6ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aditampan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemilu Legislatif 2009, Berjudi atau Golput?</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com/2009/04/09/pemilu-legislatif-2009-berjudi-atau-golput/</link>
		<comments>http://aditampan.wordpress.com/2009/04/09/pemilu-legislatif-2009-berjudi-atau-golput/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 13:11:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosialita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aditampan.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO Hari ini, Kamis 9 April 2009, adalah momentum penentu rangkaian usaha para Calon Legislatif (Caleg) dan Partai Politik (Parpol) dalam berkampanye. Kampanye yang digelar sejak 16 Maret hingga 5 April 2009, telah menghabiskan miliaran rupiah untuk sebuah usaha persuasi berbentuk iklan, poster, spanduk, konvoi, hingga konser musik. Pukul 10.30 WIB pagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=105&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><img class="alignleft size-medium wp-image-108" title="komisi-pemilihan-umum-20091" src="http://aditampan.files.wordpress.com/2009/04/komisi-pemilihan-umum-20091.jpg?w=163&#038;h=300" alt="komisi-pemilihan-umum-20091" width="163" height="300" />Hari ini, Kamis 9 April 2009, adalah momentum penentu rangkaian usaha para Calon Legislatif (Caleg) dan Partai Politik (Parpol) dalam berkampanye. Kampanye yang digelar sejak 16 Maret hingga 5 April 2009, telah menghabiskan miliaran rupiah untuk sebuah usaha persuasi berbentuk iklan, poster, spanduk, konvoi, hingga konser musik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pukul 10.30 WIB pagi ini, saya iseng mengunjungi dan <em>nongkrong </em>sejenak ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) di dekat kediaman. Suasana saat itu cukup ramai, antrean panjang, atmosfer orang berbincang, dan suara panitia yang sibuk memanggil satu persatu nama pemilih dengan pengeras suara. Memperhatikan ekspresi wajah sebagian warga yang menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Umum (Pemilu) kali ini, beberapa dari mereka terkejut ketika menerima surat suara untuk DPR (kuning), DPD (merah), DPD Provinsi (biru), dan DPD Kabupaten Kota (hijau). Banyak dan besarnya ukuran surat suara, membiaskan ekspresi kebingungan. Ketika sudah berada di bilik suara, mungkin ada dari mereka yang membatin; <em>gede banget kertasnya, waduh,,, ga ada yang sreg neh, ko’ ga ada yang ganteng/cantik?, contreng yang mana ya?</em>, atau mungkin ada yang; <em>cap cip cup</em> alias <em>gambling. </em>Seperti bermain judi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Selasai mencontreng, pemilih berjalan menuju rentetan empat kotak berbahan dasar seng, lalu memasukan surat sauaranya ke masing-masing kotak yang telah ditentukan. Kemudian, mencelupkan salah satu jari tangannya ke tinta yang sudah tersedia. Tinta tersebut membuktikan, seseorang telah menjalankan kewajibannya sebagai warga Negara. Peduli terhadap proses demokrasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ditengah suasana tersebut, segelintir anak kecil yang terkenal nakal di sekitar rumah saya melintas belarian bersama, sambil <em>cengar-cengir</em>, mereka meneriakan; “Golput, Golput, Golput.” Saya dan para warga yang sedang berada di lokasi TPS, serentak tertawa. “Bisa-bisanya mereka <em>ngomong</em> Golput,” ujar seorang bapak yang sedang berbincang bersama saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Anak-anak kecil itu membuka perspektif saya. Segera saya kembali ke rumah untuk mencari koran harian yang pernah memuat informasi mengenai sejarah Golput. “Golongan Putih di Indonesia dimulai pada Pemilu 1971, diprakarsai oleh para tokoh muda. Gerakan ini lahir karena adanya gejala Pemilu 1971 tidak demokratis.” <em>(Kompas, Sabtu, 7 Maret 2009, hal. 3). </em>Saya membaca kembali artikel tersebut, terlintas tanda tanya dalam benak saya, mengapa kelompok kepentingan tersebut menggunakan nama GOLONGAN PUTIH? Dan mengapa memilih kata GOLONGAN dalam frasa nama tersebut?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Jika mengingat sejarah demokrasi Indonesia, Pemilu 1971 diikuti oleh tiga partai, yakni PPP, Partai Golkar dan PDI. Kembali kepada pertanyaan, mengapa kelompok tersebut memilih kata GOLONGAN? Mengapa tidak diberi nama PARTAI PUTIH? PARTAI PERSATUAN PUTIH? PARTAI DEMOKRASI PUTIH, dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-106" title="golongan-putih" src="http://aditampan.files.wordpress.com/2009/04/golongan-putih.jpg?w=273&#038;h=300" alt="golongan-putih" width="273" height="300" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Ada</strong><strong> apa dengan kata GOLONGAN? Siapa yang hendak dilawan?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Siapa lagi kalau bukan Pemerintah! Siapa yang memimpin pada masa itu? Soeharto. Partai apa yang mendominasi kursi wakil rakyat? Golkar.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sekarang jelas semuanya, menurut sudut pandang praktis saya, nama GOLONGAN PUTIH dikutip dari nama Partai Golongan Karya. Hanya saja kata belakangnya dirubah, dari Karya menjadi Putih. Kata Putih itu sendiri dapat ditafsirkan; bersih. Golput merupakan Kelompok Anomi dalam partisipasi politik di suatu negara. “Kelompok ini tidak mempunyai organisasi, tetapi individu-individu yang terlibat merasa mempunyai perasaan frustasi dan ketidakpuasan yang sama.” <em>(Prof. Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, 2008)</em>. Ledakan emosi Golput, diungkapkan dengan apatisme pemberian hak suara dalam Pemilu. Pada masa Orde Baru, tujuan kelompok ini ialah memilih untuk tidak memilih partai apapun. Karena jika memilih sekalipun, hasilnya akan sama saja. Partai Golkar sulit ditumbangkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Itulah sebabnya Arif Budiman cs menjadi lokomotif gerakan Golput. Bukan berarti tokoh pemuda pada masa itu tidak peduli dengan negaranya. Melainkan Pemerintah Orde Baru lah yang semena-mena membelokan esensi dan konstitusi demokrasi. Partai Golkar pada masa itu adalah senjata kediktatoran Soeharto dalam mempertahankan kekuasaan. ABRI, Guru, dan Pegawai Negeri Sipil “dihimbau” untuk memilih partai berlambang pohon beringin. Hingga sempat terjadi “Kuning-isasi” pada waktu itu, rumah berwarna kuning pun kian menjamur di sudut-sudut kota.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kembali pada Pemilu 2009, pukul 13.00 WIB, salah satu stasiun televisi tengah melaporkan hasil <em>quick count. </em>Partai Golkar menduduki peringkat teratas penghitungan sementara. Namun pada pukul 16.00 WIB, Golkar merosot ke posisi tiga setelah Partai Demokrat dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Suara rakyat adalah suara Tuhan, Indonesia masih menantikan hasil penghitungan suara. Semoga lembaga-lembaga survei yang menangani penghitungan pesta demokrasi kali ini juga dapat mengabdi kepada rakyat. Bagi para Caleg dan tim suksesnya, selamat menantikan kemenangan, selamat kalah, selamat membayar hutang, dan selamat gila. Wacana rumah sakit jiwa bagi caleg yang gagal meraih kursi legislatif, sungguh penghinaan luar biasa bagi mereka. Kita tinggal menunggu kejutan tersebut.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aditampan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aditampan.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aditampan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aditampan.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aditampan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aditampan.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aditampan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aditampan.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aditampan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aditampan.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aditampan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aditampan.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aditampan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aditampan.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=105&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aditampan.wordpress.com/2009/04/09/pemilu-legislatif-2009-berjudi-atau-golput/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/31b56cae69ef0073063530dc6caba6ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aditampan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aditampan.files.wordpress.com/2009/04/komisi-pemilihan-umum-20091.jpg?w=163" medium="image">
			<media:title type="html">komisi-pemilihan-umum-20091</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aditampan.files.wordpress.com/2009/04/golongan-putih.jpg?w=273" medium="image">
			<media:title type="html">golongan-putih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fenomena Sosial Politik dari Kacamata Efek Rumah Kaca</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com/2009/03/09/fenomena-sosial-politik-dari-kacamata-efek-rumah-kaca/</link>
		<comments>http://aditampan.wordpress.com/2009/03/09/fenomena-sosial-politik-dari-kacamata-efek-rumah-kaca/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 15:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orkes Pelipur Lara]]></category>
		<category><![CDATA[Sosialita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aditampan.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO Musik pop adalah aliran musik yang paling banyak digemari oleh masyarakat tanah air, bahkan dunia. Mayoritas materi liriknya bertemakan cinta. Keberadaanya sangat eksis dan banyak mempengaruhi kemunculan beragam aliran musik lain. Secara substansial, jenis musik ini easy listening dan banyak mewakili perasaan cinta seseorang. Lalu bagaimana jika musik lokal didominasi tema [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=77&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><span lang="ES">OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO</span></em></strong></p>
<p><strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em></em></strong><span lang="ES">Musik pop adalah aliran musik yang paling banyak digemari oleh masyarakat tanah air, bahkan dunia. Mayoritas materi liriknya bertemakan cinta. Keberadaanya sangat eksis dan banyak mempengaruhi kemunculan beragam aliran musik lain. Secara substansial, jenis musik ini <em>easy listening</em> dan banyak mewakili perasaan cinta seseorang.</span></p>
<p><span lang="ES">Lalu bagaimana jika musik lokal didominasi tema cinta? Hufh&#8230;. Titik jenuh menanti.</span></p>
<p><span lang="ES"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-78" title="first-album-efek-rimah-kaca" src="http://aditampan.files.wordpress.com/2009/03/first-album-efek-rimah-kaca.jpg?w=140&#038;h=125" alt="first-album-efek-rimah-kaca" width="140" height="125" /></span><span lang="ES">Efek Rumah Kaca (ERK), sebuah band beranggotakan Cholil Mahmud (Gitar &amp; Vocal), Adrian Yunan Faisal (Bass &amp; Vocal) dan Akbar Bagus Sudibyo (Drum), mencoba memberi alternatif dan merubah <em>image</em> musik pop. Debut album perdananya di tahun 2007 bertajuk <em>Efek Rumah Kaca</em>,<em> </em>diusung oleh Paviliun <em>Record. </em>Uniknya, band asal Jakarta ini menggunakan fenomena Sosial Politik (Sospol) dan kehidupan sehari-hari sebagai bahan mentah, mengolahnya dengan mesin syair yang mendidik, kemudian mengemasnya secara cantik dan minimalis. Selusin lagu berkualitas ditawarkan untuk Anda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="ES">Jujur, ERK mewakili kejenuhan saya terhadap banyak band lokal yang menemui jalan buntu akan variasi konsep dan tema. Apalagi industri <em>major lable</em> yang memperkosa penampilan, mengkebiri kreativitas, dan membangun imperium asal laku di pasar<em>.</em> Karena itu, untuk musik dalam negeri, saya lebih <em>interest</em> kepada band <em>indie</em> yang tiada henti bereksperimen dan berinovasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="ES">Mengapa band Indonesia selalu menggunakan nada minor, liriknya berisi tentang perselingkuhan, patah hati dan kerinduan. Apa karena tuntutan pasar, atau memang kodrat kita sebagai bangsa Melayu? ERK mencoba melawan arus dengan lagu berjudul <em>Cinta Melulu</em>. Band yang terbentuk sejak 2001 ini semakin menambah deras arus perlawanan yang ditujukan kepada individu yang dibutakan oleh cinta dan bersikap <em>over</em> karena cinta, hal ini ditegaskan dalam tembang <em>Jatuh Cinta Itu Biasa Saja.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="ES">Belanja Terus Sampai Mati </span></em><span lang="ES">memperingatkan kaum urban agar berhati-hati terhadap wabah konsumtivisme. Penyakit sosial ini menyerang naluri kemudian membentuk pola pikir masyarakat untuk selalu menjadi konsumen, konsumen, dan konsumen. Bukan menjadi konseptor ataupun penemu. <em>“Awal dari sebuah kepuasan, kadang menghadirkan kebanggaan. Dalih keangkuhan.”</em> Kapan Indonesia menjadi bahan pembicaraan penghuni bumi atas dedikasinya mengevolusi peradaban? Ironisnya ini hanya fantasi. Tidak ada manusia seperti Einstein atau Bill Gates untuk Indonesia, habis sudah putra bangsa seperti Habibie.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="ES">Nuansa politis kental disajikan dalam lagu <em>Jalang,</em> yang mengisahkan kontroversi Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi. Adanya Perbedaan misi dengan mereka yang merasa diri paling suci, menjadi esensi terciptanya lagu ini. Setiap kali mendengar <em>Di Udara,</em> saya selalu merinding dibuatnya. <em>Track</em> tersebut akan mengingatkan kita pada misteri kematian Aktivis HAM Munir. Saat mendengar lirik; “<em>Ku bisa tenggelam di lautan, aku bisa di racun di udara, aku bisa terbunuh di trotoar jalan</em>,” ERK selalu dapat menghadirkan semangat keberanian Alm. Cak Munir menentang kediktatoran orde baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="ES"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-80" title="second-album-kamar-gelap" src="http://aditampan.files.wordpress.com/2009/03/second-album-kamar-gelap1.jpg?w=140&#038;h=140" alt="second-album-kamar-gelap" width="140" height="140" />Di penghujung 2008, ERK meluncurkan album kedua bertajuk <em>Kamar Gelap </em>yang berisikan 12 lagu<em>.</em> </span><span lang="SV">Masih dengan jalur independen, kini mereka berada di bawah bendera Aksara <em>Record</em>. Trio jenius ini menyajikan musik dengan bumbu yang lebih ‘hore’ ditambah penyedap rasa distorsi, namun tetap menyediakan menu yang edukatif.<em> </em>Judul album ini diadopsi dari salah satu judul lagu mereka, yaitu <em>Kamar Gelap</em>. ”Prinsip dasar fotografi adalah mengubah (film) negatif menjadi positif. </span><span lang="ES">Kami berharap lagu-lagu kami juga bisa seperti itu,” pernyataan tersebut diutarakan Cholil, kepada Kompas (Sabtu, 3 Januari 2009. Hal. 32).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="ES">Single </span></em><span lang="ES">album kedua berjudul <em>Kenakalan Remaja di Era Informatika</em>, membuka wacana kita akan krisis moralitas yang melanda remaja. Maraknya video porno yang dilakoni pasangan remaja membuktikan bahwa dewasa ini etika dikalahkan oleh nafsu birahi. <em>“Ouw&#8230; Nafsu menderu-deru, bikin malu. Mengapa kita tersesat arah? Mengapa kita tak bisa dewasa?”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="ES">Kepedulian terhadap minat membaca yang dikemas dengan petikan gitar nan indah serta merdunya perpaduan <em>vocal</em> tinggi dan <em>backing vocal</em> yang rendah, dilantunkan dalam lagu <em>Jangan Bakar Buku</em>. </span><span lang="FI">Menurut ERK, kata demi kata dalam sebuah buku dapat menghantarkan fantasi, dan bait-baitnya memicu anestesi. Secara tidak langsung mereka mengajak masyarakat untuk mencintai dan membudayakan membaca.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="FI">Kritik politik dan apatisme terhadap para pemimpin bangsa, diintepretasikan dalam tatanan bahasa lugas pada tembang <em>Mosi Tidak Percaya</em>. </span><span lang="SV">ERK menyentil para penguasa dengan lirik pedas. ”<em>Kau tak berubah, selalu mencari celah, lalu semakin parah, tak ada jalan tengah.</em>” Lagu ini adalah surat peringatan untuk para pemegang mandat, jangan anggap kami tak berdaya, kami tak mau lagi diperdaya. Kami tak bisa dibeli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><img class="aligncenter size-full wp-image-81" title="kacamata-erk-made-in-aditampan-" src="http://aditampan.files.wordpress.com/2009/03/kacamata-erk-aditampan-2.jpg?w=477&#038;h=148" alt="kacamata-erk-made-in-aditampan-" width="477" height="148" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="SV">Mendekati momentum pesta demokrasi, ERK mengisi kolom Obrolan A-Politis dalam rubrik Mandat Rakyat di surat kabar Kompas, yang dimuat setiap Sabtu sejak awal Januari 2009. Opini yang diangkat merupakan isu-isu yang berkaitan dengan Pemilu 2009, mulai dari tingkah aneh para Caleg, perebutan kursi Presiden, sampai pada atribut Parpol yang merusak keindahan sudut kota. Saya selalu membaca kemudian mengkliping tulisan-tulisan mereka. <em>Congratz</em>&#8230;. Prestasi yang membanggakan, sebuah band mengisi kolom secara rutin tiap minggunya di sebuah surat kabar berskala nasional. Ada baiknya anak-anak band mengikuti jejak ERK, membuktikan eksistensinya dengan cara-cara positif, kritis, elegan dan mendidik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="SV">Mengutip kalimat indah dari buku <em>”Setengah Isi, Setengah Kosong,”</em> karya Parlindungan Marpaung, beliau mengutip dan menulis kuotasi yang sempat menjadi goresan tinta emas dunia kewirausahaan. ”Ribuan orang melihat apel jatuh, namun hanya Isaac Newton yang bertanya: Mengapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="SV">Dari pepatah di atas, saya menarik kesimpulan kemudian membuat soal pilihan berganda yang semestinya dijawab oleh semua band, manajer, produser, sampai pada perusahaan rekaman yang dewasa ini menjamur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="SV">”Ribuan band menciptakan lagu, namun hanya Efek Rumah Kaca yang berbeda, Mengapa?”</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Cinta adalah segalanya</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Tidak ada tema lain</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Tuntutan pasar</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Selera dan kuping melayu</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="SV">Silahkan dijawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://www.4shared.com/dir/11918917/bdded441/Efek_Rumah_Kaca_-_Kamar_Gelap__2008_.html"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Note:</span></em></strong></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://www.4shared.com/dir/11918917/bdded441/Efek_Rumah_Kaca_-_Kamar_Gelap__2008_.html"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Free</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV"> <em>download mp3</em> Efek Rumah Kaca dalam album <em>Kamar Gelap,</em> silahkan kunjungi <em>link</em> di bawah ini:</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;color:blue;" lang="SV"><a href="http://www.4shared.com/dir/11918917/bdded441/Efek_Rumah_Kaca_-_Kamar_Gelap__2008_.html">http://www.4shared.com/dir/11918917/bdded441/Efek_Rumah_Kaca_-_Kamar_Gelap__2008_.html</a>.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aditampan.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aditampan.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aditampan.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aditampan.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aditampan.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aditampan.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aditampan.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aditampan.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aditampan.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aditampan.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aditampan.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aditampan.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aditampan.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aditampan.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=77&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aditampan.wordpress.com/2009/03/09/fenomena-sosial-politik-dari-kacamata-efek-rumah-kaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/31b56cae69ef0073063530dc6caba6ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aditampan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aditampan.files.wordpress.com/2009/03/first-album-efek-rimah-kaca.jpg?w=107" medium="image">
			<media:title type="html">first-album-efek-rimah-kaca</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aditampan.files.wordpress.com/2009/03/second-album-kamar-gelap1.jpg?w=96" medium="image">
			<media:title type="html">second-album-kamar-gelap</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aditampan.files.wordpress.com/2009/03/kacamata-erk-aditampan-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kacamata-erk-made-in-aditampan-</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Islam Menjadi Kendaraan Politik</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com/2009/03/09/ketika-islam-menjadi-kendaraan-politik/</link>
		<comments>http://aditampan.wordpress.com/2009/03/09/ketika-islam-menjadi-kendaraan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 14:18:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosialita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aditampan.wordpress.com/2009/03/09/ketika-islam-menjadi-kendaraan-politik/</guid>
		<description><![CDATA[OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO Jangan kotori kesucian agama dengan kotoran intrik-intrik politik. Lepaskan azas, baju koko, peci, ucapan, serta ”bumbu-bumbu” yang berkaitan dengan Islam saat kalian menjalankan fungsi politik.  Tidak ada sejarahnya konsep Pemerintahan modern bersih dari kelicikan, suap-menyuap, lobi terselubung, kepentingan golongan, dan kegiatan merusak moral lainnya dari substansial kegiatan politik. Saya tidak rela [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=70&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO</em></strong></p>
<p><span lang="SV">Jangan kotori kesucian agama dengan kotoran intrik-intrik politik. Lepaskan azas, baju koko, peci, ucapan, serta ”bumbu-bumbu” yang berkaitan dengan Islam saat kalian menjalankan fungsi politik.</span> </p>
<p><span lang="SV">Tidak ada sejarahnya konsep Pemerintahan modern bersih dari kelicikan, suap-menyuap, lobi terselubung, kepentingan golongan, dan kegiatan merusak moral lainnya dari substansial kegiatan politik.</span></p>
<p><span lang="SV">Saya tidak rela melihat Islam ditunggangi para prajurit pengkhianat Raja dan bangsanya.</span></p>
<p><span lang="SV">Berkaca dan malulah kalian.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aditampan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aditampan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aditampan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aditampan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aditampan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aditampan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aditampan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aditampan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aditampan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aditampan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aditampan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aditampan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aditampan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aditampan.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=70&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aditampan.wordpress.com/2009/03/09/ketika-islam-menjadi-kendaraan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/31b56cae69ef0073063530dc6caba6ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aditampan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Krisis Edukasi Pertelevisian Indonesia</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com/2008/12/22/wahai-pakar-komunikasi-sudahkah-anda-menjalankan-fungsi-komunikasi-dengan-benar/</link>
		<comments>http://aditampan.wordpress.com/2008/12/22/wahai-pakar-komunikasi-sudahkah-anda-menjalankan-fungsi-komunikasi-dengan-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 12:50:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosialita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aditampan.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[ OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Banyak orang menganggap bahwa komunikasi itu mudah dilakukan karena biasa dilakukan sejak lahir. Hanya bila seseorang memasuki suatu pengalaman di mana proses komunikasi yang biasa dilakukan tersebut rusak atau “macet”, baru ia menyadari bahwa komunikasi itu ternyata tidak mudah. Rosady Ruslan menjelaskan dalam bukunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=41&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong><em><span lang="SV">OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO</span></em></strong><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="SV">Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Banyak orang menganggap bahwa komunikasi itu mudah dilakukan karena biasa dilakukan sejak lahir. Hanya bila seseorang memasuki suatu pengalaman di mana proses komunikasi yang biasa dilakukan tersebut rusak atau “macet”, baru ia menyadari bahwa komunikasi itu ternyata tidak mudah.</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span lang="SV">Rosady Ruslan menjelaskan dalam bukunya yang berjudul <em>Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi</em>, <em>Konsepsi dan Aplikasi (2006)</em>, <span style="color:black;">bahwa peran komunikasi sangat penting bagi<strong> </strong>manusia dalam kehidupan sehari–hari, sesuai dengan fungsi komunikasi yang bersifat:</span></span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="NO-BOK">1. Persuasif (<em>to persuade). </em>Inti dari fungsi komunikasi adalah menggerakkan, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku seseorang. </span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;">2. Edukatif <em>(to educate). </em>Terjadinya pertukaran informasi yang berupa ilmu pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya.</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;">3. Informatif <em>(to inform). </em>Komunikasi yang mengandung muatan persuasif dalam arti bahwa pembicara menginginkan pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang disampaikannya akurat dan layak untuk diketahui.</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="NO-BOK">4. Menghibur <em>(to entertain). </em>Secara tidak langsung komunikasi dapat membantu melupakan persoalan hidup seseorang.</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="NO-BOK">Pemaparan di atas adalah teori dasar ketika seseorang mempelajari ilmu komunikasi, namun apakah teori tersebut telah dipraktikan secara baik dan benar oleh para mahasiswa, praktisi dan pelaku komunikasi? Pertanyaan tersebut adalah suatu tanda tanya besar.</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span lang="NO-BOK"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Saya mencoba membahas komunikasi dalam konteks penyiaran televisi, mengapa saya memilih <em>angle </em>tersebut? Karena televisi memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Oleh karena itu, para pekerja, praktisi dan profesional televisi harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan.</span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;"><strong><em></em></strong></span></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-51" title="televisi seharusnya menjadi alat kontrol sosial" src="http://aditampan.files.wordpress.com/2008/12/televisi-seharusnya-menjadi-alat-kontrol-sosial4.jpg?w=460&#038;h=90" alt="televisi seharusnya menjadi alat kontrol sosial" width="460" height="90" /></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="NO-BOK">Pernyataan di atas adalah fungsi televisi sebagai media massa. </span><span style="color:black;" lang="SV">Setujukah Anda? Faktanya, banyak program televisi di Indonesia yang tidak menjalankan fungsi komunikasi secara utuh. Sebagian besar dari ”mereka” meninggalkan fungsi ’edukatif’ dari esensial fungsi komunikasi. Mengapa demikian? Mungkin karena lupa, atau karena <em>rating</em>, atau karena tidak memiliki <em>background</em> pendidikan komunikasi, atau karena keinginan khalayak, atau karena hanya mengikuti keinginan bos besar dan para petinggi televisi tempat mereka bekerja.</span><span> </span></span></span></p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-49" title="televisi-kini-hanya-menjadi-komoditas-bisnis5" src="http://aditampan.files.wordpress.com/2008/12/televisi-kini-hanya-menjadi-komoditas-bisnis5.jpg?w=300&#038;h=51" alt="televisi-kini-hanya-menjadi-komoditas-bisnis5" width="300" height="51" /></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="SV">Program televisi secara substansial adalah seni penciptaan karya berbentuk <em>audio </em>dan <em>visual. </em>Sebelum berkarya, seorang pekerja televisi harus memposisikan diri sebagai penonton agar mengetahui secara pasti target penonton yang akan dituju, agar program yang dibuat mempunyai karakter yang kuat, tidak murahan dan tidak membodohi.</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="SV">Seorang Reporter, Asisten Produksi, Produser, Kamerawan, Editor, Programer, sampai pada Pemimpin Redaksi dan Dewan Redaksi, harus mempunyai visi mengembangkan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam pikiran dan kreativitasnya. Tidak hanya bermodalkan kreativitas yang dewasa ini justru membodohi, seorang pekerja televisi layaknya mempunyai dasar pemikiran yang terkait dengan etika dan estetika. Seluruh proses ini harus diimbangi dengan mempertimbangkan dampak yang akan diterima oleh penonton.</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="SV">Tidak disangka, sebuah benda elektronik berbentuk kotak yang dicitrai gambar bergerak dan suara, sangat mempengaruhi sosial keseharian individu. </span><span style="color:black;" lang="FI">Anda pasti pernah mengucapkan kalimat:</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="FI">1. Kita? <em>Elo aja kali gue enggak</em></span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="FI">2. <em>Yaiyalah, masa yaiyadong</em>. Mulan <em>aja</em> Jameelah <em>masa</em> Jameedong</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="FI">3. A, B, C, D, <em>Aduh Bo’ Cape Deh?</em></span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="FI">4. dan sebagainya</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="FI">Jargon-jargon di atas, adalah contoh kecil pengaruh televisi. Tidak hanya jargon, tanpa sadar masyarakat terperangkap oleh sebuah format program yang frekuensi siarannya menyaingi program berita. Bayangkan, pun jam 7 (tujuh) pagi masyarakat harus menelan informasi seputar masalah pribadi dan gaya hidup para artis yang serba hedonis. Alhasil, program yang menurut saya tidak termasuk kategori jurnalistik tersebut, berhasil membius masyarakat untuk mengikuti tingkah artis dan memicu konsumtivisme.</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="color:black;" lang="FI">Kemanakah program kuis? Dimana program yang mengangkat kebudayaan nusantara? </span><span style="color:black;" lang="SV">Masih relevankah drama berseri yang sampai tengah malam masih siaran? Entah karena kehabisan materi tayang? Atau karena tuntutan bisnis. Yang ada hanyalah eksploitasi kehidupan masyarakat yang hanya menjual nilai konyol murahan (saya tidak mengatakan <em>reality show</em>). Atau Membodohi khalayak dengan <em>cengeng-cengengan</em> (saya tidak mengatakan sinetron), yang inti cerita melulu seperti itu. </span><span style="color:black;" lang="FI">Ironis memang. Tapi inilah wajah pertelevisian Indonesia.</span><span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Berhati-hatilah dalam menonton sebuah program. Coba renungkan, Apakah Anda hanya INGIN menonton, ataukah Anda memang merasa PERLU menonton program tersebut. Karena program yang baik adalah program yang memang DIINGINKAN dan DIPERLUKAN khalayak. Selamat memilih tontonan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Semoga tulisan ini dapat membuka perspektif para profesional yang mengaku dirinya adalah pakar komunikasi.</span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aditampan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aditampan.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aditampan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aditampan.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aditampan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aditampan.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aditampan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aditampan.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aditampan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aditampan.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aditampan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aditampan.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aditampan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aditampan.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=41&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aditampan.wordpress.com/2008/12/22/wahai-pakar-komunikasi-sudahkah-anda-menjalankan-fungsi-komunikasi-dengan-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/31b56cae69ef0073063530dc6caba6ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aditampan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aditampan.files.wordpress.com/2008/12/televisi-seharusnya-menjadi-alat-kontrol-sosial4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">televisi seharusnya menjadi alat kontrol sosial</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aditampan.files.wordpress.com/2008/12/televisi-kini-hanya-menjadi-komoditas-bisnis5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">televisi-kini-hanya-menjadi-komoditas-bisnis5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Program Buku Murah, Dimana yang Murah?</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com/2008/12/22/program-buku-murah-dimana-yang-murah/</link>
		<comments>http://aditampan.wordpress.com/2008/12/22/program-buku-murah-dimana-yang-murah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 12:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosialita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aditampan.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO Pernahkah Anda mendengar Program Buku Murah yang digalangkan Departemen Pendidikan? Program tersebut, disosialisasikan dalam talkshow Special Dialog di Metro TV, pada hari Selasa (19/08/2008), pukul 20.00 WIB. Dengan nara sumber Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo. Sekedar saran, daripada anggaran Depdiknas dipakai untuk mensponsori program Special Dialog episode Program Buku Murah tersebut, lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=36&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><span lang="SV">OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO</span></em></strong></p>
<p><strong><em></em></strong><span lang="SV">Pernahkah Anda mendengar Program Buku Murah yang digalangkan Departemen Pendidikan? Program tersebut, disosialisasikan dalam <em>talkshow</em> Special Dialog di Metro TV, pada hari Selasa (19/08/2008), pukul 20.00 WIB. Dengan nara sumber Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo.</span></p>
<p><span lang="SV">Sekedar saran, daripada anggaran Depdiknas dipakai untuk mensponsori program Special Dialog episode Program Buku Murah tersebut, lebih baik digunakan untuk benar-benar merealisasikan agar bangsa ini mencintai dan membudayakan membaca. Karena selama ini, harga buku yang selangit menjadi salah satu faktor penghalang budaya baca di Negara bendera Merah Putih.</span></p>
<p><span lang="SV">Bagaimana Prof. DR. Bambang Sudibyo, MBA., merealisasikannya? Apakah dengan merazia dan menggusur pedagang buku kaki lima di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat?</span></p>
<p><span lang="SV">Sadarkah Kisanak Para Menteri, Bapak Wapres dan Bapak Presiden, Kwitang adalah <em>THE REAL CHEAP BOOK STORE?</em> Masyarakat tidak p</span><span lang="EN-US">eduli bahwa buku yang mereka beli adalah buku bajakan, warnanya kabur, hurufnya tidak jelas, cepat rusak, ataupun fotokopian. Yang terpenting adalah, bagaimana caranya menambah isi otak dengan beragam pengetahuan tanpa harus merogoh uang <em>selipan</em> di dompet, yang seharusya untuk uang saku hari esok dan lusa.</span></p>
<p><span lang="EN-US">Jika kita berkunjung ke toko buku, bersiaplah dikejutkan dengan harga banderol yang notabene sulit dijangkau oleh mahasiswa, contohnya adalah saya sendiri. Alternatifnya adalah, pergi ke Kwitang, menyusuri kios-kios, bertanya-tanya, tawar-menawar, dan terjadilah transaksi buku yang diinginkan dengan harga terjangkau.</span></p>
<p><span lang="EN-US">Disisi lain, Pemerintah setempat menindak lanjuti dan bertanggung jawab penuh atas <em>THE REAL CHEAP BOOK STORE. </em>Sebagian pedagang buku kali </span><span lang="EN-US">lima</span><span lang="EN-US"> Kwitang yang terkena petertiban telah dialokasikan ke Proyek Senen dan JaCC (</span><span lang="EN-US">Jakarta</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">City</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">Center</span><span lang="EN-US">) Tanah Abang, Jakarta Pusat. Syukurlah.</span></p>
<p><span lang="EN-US">Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemda DKI Jakarta, semoga <em>THE REAL CHEAP BOOK STORE<span> </span></em>tidak lagi terkena razia. </span><span lang="SV">Karena secara tidak langsung, para pedagang tersebut berkontribusi mencerdaskan bangsa.</span></p>
<p><span lang="SV">Jika boleh saya bertanya kepada pihak berwenang, mengapa para pedagang tersebut dialokasikan? Kenapa mereka tidak dilarang lagi untuk berjualan, seperti halnya pedagang CD (Compact Disc) atau DVD (Digital Video Disc) bajakan? Saya yakin, apa yang ada di benak saya juga ada dalam benak Anda. Karena kita satu visi, ingin melihat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas. Oleh karena itu, realisasikan Program Buku Murah demi anak dan cucu Anda, dan lakukan dengan sepenuh hati.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aditampan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aditampan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aditampan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aditampan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aditampan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aditampan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aditampan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aditampan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aditampan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aditampan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aditampan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aditampan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aditampan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aditampan.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=36&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aditampan.wordpress.com/2008/12/22/program-buku-murah-dimana-yang-murah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/31b56cae69ef0073063530dc6caba6ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aditampan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Punk dan Anti Kemapanan</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com/2008/09/02/punk-dan-anti-kemapanan/</link>
		<comments>http://aditampan.wordpress.com/2008/09/02/punk-dan-anti-kemapanan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 16:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosialita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aditampan.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO Banyak orang berpendapat bahwa Punk itu kotor, berantakan dan identik dengan kehidupan yang tidak jelas, bahkan ada yang beropini bahwa Punk itu brutal. Padahal, tidak semua pecinta musik Punk atau yang biasa disebut Punkers demikian adanya. Dilihat dari sejarahnya, Punk masih menjadi tanda tanya tentang awal mula keberadaannya. Ada Punkers yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=26&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><strong><em><span style="font-size:8pt;line-height:130%;">OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:130%;">Banyak orang berpendapat bahwa Punk itu kotor, berantakan dan identik dengan kehidupan yang tidak jelas, bahkan ada yang beropini bahwa Punk itu brutal. <span lang="SV">Padahal, tidak semua pecinta musik Punk atau yang biasa disebut <em>Punkers<span> </span></em>demikian adanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:130%;"><span lang="SV">Dilihat dari sejarahnya, Punk masih menjadi tanda tanya tentang awal mula keberadaannya. Ada <em>Punkers </em>yang berpendapat bahwa Punk berawal dari sebuah aliran musik. Tapi yang jelas, Punk muncul sebagai budaya tandingan terhadap kemapanan dan kapitalisme pada masa revolusi industri di Inggris yang menggantikan tenaga manusia dengan tenaga mesin di tahun 1960an. Akibatnya, banyak pengusaha yang melakukan pemutusan hubungan kerja para karyawannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:130%;">Pada tahun 1960an, ada sebuah band Rock bernama New York Dolls. Dalam konsep pembuatan lagu, band ini membuat lirik yang “nyeleneh” dengan durasi lagu yang singkat. <span lang="SV">Dan band inilah yang menjadi <em>influence </em>dari terbentuknya musik Punk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:130%;"><span lang="SV">Seorang <em>designer</em> dan pemilik butik asal Inggris bernama Malcolm Mc. Laren, adalah otak dari terbentuknya Sex Pistols. Band inilah yang pertama kali mengasumsikan dirinya sebagai band Punk, dilanjutkan dengan munculnya Ramones, Rancid, dsb.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:130%;">
<div id="attachment_63" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><img class="size-medium wp-image-63" title="anti kapitalis" src="http://aditampan.files.wordpress.com/2008/09/punk1.jpg?w=200&#038;h=300" alt="anti kapitalis" width="200" height="300" /><p class="wp-caption-text">anti kemapanan dan kapitalisme</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:130%;"><span lang="SV">Celana <em>jeans </em>ketat, rambut Mohawk<em>, Body Pierchng </em><span> </span>dan tato, merupakan gaya berdandan para <em>Punkers. </em></span>Gaya seperti ini dipelopori oleh Exploited. Band ini meniru dari budaya suku Mohawk di Amerika. Di daerah asalnya, Suku Mohawk membuat tato, rambut Mohawk dan <em>Body Pierching </em>sebagai tolak bala atas kepercayaan yang mereka anut. Dan para <em>Punkers</em> meniru<em> </em>gaya tersebut sebagai salah satu ungkapan ekspresi dan bentuk perlawanan terhadap kemapanan dan kapitalisme. Intinya, komunitas Punk menuntut kehidupan yang bebas tanpa aturan, tapi bukan berarti mereka menjadi musuh masyarakat. Justru <em>Punkers </em>sangat peduli terhadap masyarakat kelas bawah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:130%;"><span lang="FI">’Kesamaan’ juga menjadi semboyan komunitas Punk. Dimata mereka tak ada perbedaan jenis kelamin, patriarki ataupun matriarki. Mereka juga menunjukan kepedulian terhadap sesama dengan melakukan tradisi <em>Food Not Bombs </em>(Makanan bukan Bom)<em>. </em></span><span lang="SV">Awalnya,<em> </em>tradisi ini tercetus di Amerika sebagai protes kepada Pemerintah atas pembelian nuklir. <em>Punkers </em>berpendapat, dari pada Pemerintah menghambur-hamburkan uang untuk membeli nuklir, lebih baik dibelikan makanan untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat. </span><span lang="FI">Di Indonesia, khususnya di Jakarta, tradisi seperti ini masih sering dilakukan. Tujuannya, mengingatkan bahwa makanan sebenarnya gratis, hanya saja sistem kapital membuatnya menjadi suatu komuditas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:130%;"><span lang="FI"><em>Keep on Punk Spirit</em><br />
</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aditampan.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aditampan.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aditampan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aditampan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aditampan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aditampan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aditampan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aditampan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aditampan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aditampan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aditampan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aditampan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aditampan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aditampan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aditampan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aditampan.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=26&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aditampan.wordpress.com/2008/09/02/punk-dan-anti-kemapanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/31b56cae69ef0073063530dc6caba6ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aditampan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aditampan.files.wordpress.com/2008/09/punk1.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">anti kapitalis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Virus Gaya Hidup Konsumtif</title>
		<link>http://aditampan.wordpress.com/2008/09/02/virus-gaya-hidup-konsumtif/</link>
		<comments>http://aditampan.wordpress.com/2008/09/02/virus-gaya-hidup-konsumtif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 16:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosialita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aditampan.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO “Woow.. Astaga apa yang sedang terjadi. Woow.. Astaga entah kemana semua ini. Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli, mudah putus asa dan kehilangan arah.” Sepotong lirik lagu berjudul Astaga yang dipopulerkan oleh Ruth Sahanaya, sepertinya tengah mencengkram kaum muda yang sedang dilanda ”sesuatu”, seperti halnya sikap keputusasaan dan hilangnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=23&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:8pt;line-height:150%;" lang="FI">OLEH: ADITYA PANJI RAHMANTO</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><em><span lang="SV">“Woow.. Astaga apa yang sedang terjadi. </span></em><em><span lang="FI">Woow.. Astaga entah kemana semua ini. Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli, mudah putus asa dan kehilangan arah.” </span></em><span lang="FI">Sepotong lirik lagu berjudul <em>Astaga</em> yang dipopulerkan oleh Ruth Sahanaya, sepertinya tengah mencengkram kaum muda yang sedang dilanda ”sesuatu”, seperti halnya sikap keputusasaan dan hilangnya arah tujuan (disorientasi), yang sering terjadi.<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="SV">“Sesuatu” tersebut adalah keberadaan nilai hedonis dan konsumtif yang saat ini berkembang secara revolusioner di kalangan anak muda. Apakah ini dapat diartikan sebagai suatu peningkatan dalam dunia ekonomi? Atau mungkin telah memperkeruh cara berpikir masyarakat (khususnya anak muda) yang cenderung konsumtif?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="SV">Meningkatnya jenis dan merk suatu produk yang beredar di pasaran, tanpa disadari memicu sikap matrealistis yang merekat kuat pada sebagian orang. Salah satu korbannya adalah Mahasiswa. Adalah suatu hal yang wajar jika seorang Mahasiswa mengikuti tren <span> </span><em>fashion</em>, tempat hiburan, makanan cepat saji dan teknologi yang selalu berubah dengan cepat tanpa bertepi. Tapi kenyataannya, tidak sedikit pula Mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="SV">Dengan uang saku yang masih menodongkan tangan ke orang tua, pasti tidak sedikit orang tua yang mengeluh karena desakan konsumerisme sang anak yang fanatik akan produk-produk ternama, mungkin karena gengsi yang dianggap berhubungan dengan status sosial dan harga diri, padahal keinginannya tidak seimbang dengan kebutuhannya. Hal tersebut, mendominasi seseorang untuk menguatkan identitas diri secara simbolik yang ternilai dari apa yang dipakai dan digunakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="SV">Keprihatinan tersebut, tanpa disadari bisa terbawa hingga dewasa, karena konsumtivisme mempengaruhi psikologis seseorang dan akan membawa dampak pada kehidupan sosialnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="ES">Muda foya-foya, tua kaya-raya dan mati masuk surga. Metamorfosis hidup seperti itu pasti pernah terlintas dalam benak kita. Apakah semudah membalikan telapak tangan? </span><span lang="SV">Jika kebahagiaan hidup yang diharapkan tidak diiringi dengan usaha dan kerja keras, ditambah lagi jika seseorang sudah terbiasa instan mendapatkan apa yang diinginkan. Pasti akan lebih banyak lagi orang disekeliling kita yang memilih jalan pintas untuk bisa mendapatkan apa yang diyakini sebagai suatu kebutuhan. Bukti empirisnya adalah menjalarnya kasus korupsi dimana-mana, bahkan pada <em>level</em> kampus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="SV">Fenomena Konsumtivisme yang melanda kaum muda dan Mahasiswa adalah sasaran empuk yang berkesinambungan bagi industri, dimana emosi masih menguasainya dalam memutuskan suatu hal dan menomorduakan skala prioritas. Ironisnya lagi, bersamaan saat media massa menyajikan informasi tentang bencana alam yang sering melanda Ibu pertiwi belakangan ini, hampir di setiap waktu pula media massa mempublikasikan berbagai iklan yang menawarkan nilai-nilai kemudahan dan kemewahan yang menyenangkan. Dimanakah fungsi media massa yang seharusnya menjadi alat kontrol sosial?<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="SV">Ada sebuah cerita lucu ketika saya sedang <em>nongkrong</em> bersama teman-teman di lobi kampus. Si Ganteng, sebut saja demikian nama salah seorang Mahasiswa. Saat itu kami sedang bersantai melepas lelah setelah mengikuti perkuliahan. Tiba-tiba si Ganteng di ejek oleh salah satu teman saya, “muka sih boleh ganteng, gaya keren, tapi ga punya <em>Hand Phone </em>(HP)”. Teman-teman yang lain menertawakan si Ganteng. “<em>Sorry</em>, tangan gua gatel kalo bawa HP yang kaya begini” (mengejek salah satu teman yang menggunakan HP produksi tahun terdahulu). “Gua tuh maunya yang <em>poliphonik</em>, ada kameranya, musik <em>player</em>, sama ada fasilitas <em>Bluetooth</em>-nya.” Begitulah kira-kira jawaban si Ganteng.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="SV">Apakah kisah di atas juga sering mampir di telinga anda? Kondisi tersebut menjadi target <em>market</em> sebuah perusahaan telepon genggam<em> </em>terkemuka di dunia, yang memilih Indonesia sebagai negara Asia Tenggara pertama untuk <em>launching</em> produk terbarunya. Apakah Indonesia adalah bangsa yang modern? Atau sudah berpredikat sebagai bangsa konsumtif?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="SV"><span> </span>Menengok sedikit pada momentum Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei lalu, dimana 100 tahun yang lalu, bangsa Indonesia menyatakan diri bangkit dari penindasan, pembodohan dan pemerasan atas kesewenang-wenangan kekuasaan pemerintah kolonial. Semua gerakan yang lahir pada masa itu, menyatukan tekad dan semangat nasionalisme memperjuangkan suatu keadilan sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="SV">Maka di era globalisasi sekarang ini, kita bisa memaknai kebangkitan nasional dari sudut pandang yang lebih luas. Salah satunya dari kacamata perekonomian industri lokal. Praktiknya, berpartisipasi menyiasati diri untuk membangun kepercayaan pada produk lokal dan melepaskan ketergantungan pada produk asing. Hal ini, mampu membangun citra baru dan menanamkan konsepsi kemandirian untuk industri dalam negeri, dan tentu saja memberikan kontribusi positif untuk devisa negara. </span><span lang="ES">Itu lebih baik, dari pada devisa negara terus digerogoti kapitalis global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="ES">Mahasiswa adalah pondasi bangsa yang sudah seharusnya memiliki sumber daya manusia yang baik dan kematangan berpikir yang<span> </span><em>fresh</em>. Apa jadinya jika konsumtivisme terlanjur menjadi wabah penyakit sosial yang terus menghantui Indonesia dari keterpurukan yang berkepanjangan. </span><span lang="SV">Jangan sampai sikap tersebut terinfeksi pada generasi bangsa dan menjadi budaya yang mencemaskan. Coba lihat “kebawah”, bagaimana masyarakat pedesaan berusaha keras memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. </span><span lang="FI">Saya cukup prihatin atas kesenjangan sosial yang kasat mata terlihat oleh kita semua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="FI">Terpaan informasi yang terus-menerus membius kita, harus dengan cermat ditepis dengan cara berpikir rasional yang jauh ke depan, karena industri tidak akan pernah berhenti memproduksi barang <em>up-to-date</em>.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aditampan.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aditampan.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aditampan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aditampan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aditampan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aditampan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aditampan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aditampan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aditampan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aditampan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aditampan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aditampan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aditampan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aditampan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aditampan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aditampan.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aditampan.wordpress.com&amp;blog=4475579&amp;post=23&amp;subd=aditampan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aditampan.wordpress.com/2008/09/02/virus-gaya-hidup-konsumtif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/31b56cae69ef0073063530dc6caba6ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aditampan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
